Cerita Gay Afghanistan Sembunyi di Ruang Bawah Tanah, Takut Dipenggal Taliban

Keluarga itu takut mati di tangan Taliban, seperti ayahnya bertahun-tahun silam.

Eko Faizin
Rabu, 13 Oktober 2021 | 20:25 WIB
Cerita Gay Afghanistan Sembunyi di Ruang Bawah Tanah, Takut Dipenggal Taliban
Ilustrasi pasukan Taliban. [Hoshang Hashimi/AFP]

Ia menyebut merasa akan lebih aman sebagai laki-laki gay di Kabul. Namun beberapa hari kemudian, kota itu jatuh ke tangan Taliban.

Ahmed juga menyadari perlakuan Taliban terhadap minoritas di Afghanistan.

Dalam pernyataan publik pada bulan Juli, seorang hakim Taliban mengatakan hanya ada dua hukuman untuk homoseksualitas yakni rajam atau dihancurkan di bawah tembok yang dirobohkan.

Penyelidikan baru-baru ini yang dilakukan Amnesty International menemukan Taliban pada akhir Agustus mengeksekusi 13 orang etnis Hazara, yang sebagian besar adalah anggota Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan.

Sebagai etnis Hazara, Ahmed mencoba menyembunyikan wajahnya di depan umum. Mereka biasanya memiliki ciri khas wajah Asia Timur dan Tengah dengan warna kulit lebih terang dan mata yang khas, yang berbeda dari kebanyakan orang Afghanistan. Kelompok itu sebagian besar beraliran Syiah, sementara mayoritas penduduk beraliran Sunni.

Menghindari persekusi, Ahmed mengenakan pakaian tradisional dan sorban. Masker medis menutupi jenggotnya yang jarang. Kacamata hitam menutupi matanya setiap kontak mata dengan tentara Taliban.

Awalnya, dia tidak sehati-hati itu. Suatu hari di bulan Agustus, Taliban sempat menyetop langkah Ahmed karena mengenakan topi bisbol. Mereka menarik topi itu dari kepalanya dan menuntut penjelasan.

“Mengapa mengenakan topi hip hop?”katanya.

Di suatu waktu, Ahmed kerap merasa putus asa sehingga berpikir untuk mengakhiri hidup.

Seorang aktivis hak asasi manusia berbasis di Seattle yang telah membantu saudara-saudara Ahmed, Michael Failla, mengatakan dia mendapat telepon darinya saat tengah malam.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini