Kokohnya Mimbar Berusia 300 Tahun, Saksi Bisu Syiar Islam di Siak

Budayawan Siak, Said Muzani mengatakan, sejak dahulu mimbar itulah yang menjadi tempat para khatib menyampaikan syiar Islam di Siak.

Eko Faizin
Kamis, 06 Mei 2021 | 05:40 WIB
Kokohnya Mimbar Berusia 300 Tahun, Saksi Bisu Syiar Islam di Siak
Mimbar yang berusia ratusan tahun yang berada di Masjid Raya Syahabuddin Siak. [Suara.com/Alfat Handri]

"Untuk tukang pangkas rambut Sultan itu juga dari Sumatera Barat," ungkapnya.

Sementara itu, dari Sumatera Utara ada Abdullah Mukhtar Harahap sebagai penasehat yang juga ulama di Kerajaan Siak.

"Sementara khatibnya yakni Imam Hamzah tinggal di Mempura. Setiap hari Ia menggunakan sampan untuk menjadi khatib di masjid ini, dan Imamnya Faqih Abdullah," kata Said Muzani.

Dikisahkan Muzani tentang sosok Sultan Syarif Kasim II, beliau merupakan sosok pemimpin yang waro', artinya memang sangat alim.

"Apa yang diucapkan sultan biasanya terjadi dengan nyata. Dahulu, jika sultan Siak ke Bagansiapiapi,orang-orang Cina di Bagan itu meminta kaki sultan dicelupkan ke air sungai itu. Sehingga dalam waktu beberapa saat ikan itu bermunculan ke permukaan," beber Muzani.

Kendati demikian, kata Muzani lebih jauh, hal itu bukan karena kaki sultan yang masuk ke air yang menyebabkan ikan itu bermunculan namun lebih kepada doa dari Sultan Syarif Kasim II.

"Jadi bukan karena kakinya, tapi kekuatan doa dari Sultan waktu itu. Karena sultan benar-benar orang yang taat beragama," kata dia.

Kontributor : Alfat Handri

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini