suara mereka

Masjid Raya Syahabuddin, Peninggalan Sultan Siak Bergaya Eropa-Turki

Lamanya pembangunan Masjid Raya Syahabuddin ini dilakukan renovasi lebih kurang selama 10 tahun.

Eko Faizin
Minggu, 02 Mei 2021 | 06:28 WIB
Masjid Raya Syahabuddin, Peninggalan Sultan Siak Bergaya Eropa-Turki
Masjid Syahabuddin atau Masjid Raya Siak peninggalan Sultan Syarif Kasim II atau Sultan Siak ke-12. [Suara.com/Alfat Handri]

SuaraRiau.id - Masjid Raya Syahabuddin atau Masjid Raya Siak merupakan salah satu masjid yang berlokasi di Jalan Sultan Ismail, Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi Istana Siak. Masjid ini sejak zaman Kerajaan Siak sudah ada. Zaman Sultan Siak ke-11 yakni Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin masjid ini terbuat dari kayu.

"Namun, setelah zaman Sultan ke -12 yakni Sultan Syarif Kasim II masjid ini direnovasi dijadikan batu pada tahun 1926," kata Budayawan Siak, Said Muzani.

Lamanya pembangunan Masjid Raya Syahabuddin ini dilakukan renovasi lebih kurang selama 10 tahun.

Zaman dahulu, lanjut Said Muzani, di sekitar masjid Syahabudin ini terdapat sebuah menara tinggi yang berfungsi untuk orang azan.

"Menara itu untuk azan, sebab zaman dahulu belum ada mic atau speaker, khususnya menara itu berfungsi pada saat adzan subuh," jelas Said Muzani.

Dahulu, kenang Muzani saat dirinya masih kecil, bahwa Masjid Syahabuddin merupakan sentral bagi masyarakat Siak untuk melaksanakan salat Jumat.

"Dari daerah kalian, dari seberang Kampung Tengah, Mempura, dan Tanjung Agung. Mereka ke masjid menggunakan sampan," jelasnya

Bahkan, setiap bulan Ramadhan, masjid Syahabudin juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk melaksanakan salat tarawih.

"Semuanya datang kemari bahkan dari seberang pun datang menggunakan sampan," kata dia.

Saat itu, tambahnya, di Masjid Syahabudin ada tradisi melambatkan setiap azan isya untuk menunggu jamaah dari tempat yang jauh.

"Dulu tak ada kendaraan lain, jadi ya memang harus seksama," ungkapnya.

Sementara itu, untuk mengetahui masuknya waktu salat, khususnya salat Jumat, para muadzin menunggu Sultan Syarif Kasim II datang.

"Tunggu sultan datang dulu, setelah sultan salat tahyatul masjid baru azan dikumandangkan," jelas Said Muzani.

Dijelaskannya, dahulu di masjid tidak ada jam, sementara jam hanya ada di Istana Siak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini