Masjid Raya Syahabuddin, Peninggalan Sultan Siak Bergaya Eropa-Turki

Lamanya pembangunan Masjid Raya Syahabuddin ini dilakukan renovasi lebih kurang selama 10 tahun.

Eko Faizin
Minggu, 02 Mei 2021 | 06:28 WIB
Masjid Raya Syahabuddin, Peninggalan Sultan Siak Bergaya Eropa-Turki
Masjid Syahabuddin atau Masjid Raya Siak peninggalan Sultan Syarif Kasim II atau Sultan Siak ke-12. [Suara.com/Alfat Handri]

Saat itu, tambahnya, di Masjid Syahabudin ada tradisi melambatkan setiap azan isya untuk menunggu jamaah dari tempat yang jauh.

"Dulu tak ada kendaraan lain, jadi ya memang harus seksama," ungkapnya.

Sementara itu, untuk mengetahui masuknya waktu salat, khususnya salat Jumat, para muadzin menunggu Sultan Syarif Kasim II datang.

"Tunggu sultan datang dulu, setelah sultan salat tahyatul masjid baru azan dikumandangkan," jelas Said Muzani.

Dijelaskannya, dahulu di masjid tidak ada jam, sementara jam hanya ada di Istana Siak.

"Sultan Syarif Kasim II itu di samping seorang pemimpin ataupun penguasa beliau adalah orang yang umaro dan taat beribadah, bahkan beliau sempat jadi khatib di masjid Syahabuddin," kata Muzani.

Said Muzani ingat betul, dahulu sultan memiliki buku untuk berkhutbah dan buku itu sempat dipegang oleh salah satu imam di masjid Syahbudin saat itu.

"Kalau tak salah saya buku itu sama pak Kadi Nontel atau pak Abdul Muthalib," ungkap Muzani lebih jauh.

"Sultan sangat alim sehingga bagi masyarakat Siak beliau merupakan orang yang dianggap memiliki karomah," tambahnya.

Bentuk Masjid Syahabudin itu sendiri sultan mengadopsi gaya campuran Turki dan Eropa.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini