Eko Faizin
Sabtu, 12 September 2026 | 08:04 WIB
Ilustrasi - Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Siak, Rabu (19/6/2024). [Ist]
Baca 10 detik
  • Petugas pemadam gabungan terus menangani kebakaran hutan seluas 273,423 hektare di Kabupaten Siak hingga September 2026.
  • Kementerian Kehutanan mengapresiasi kolaborasi terpadu berbagai pihak dalam menghadapi tantangan pemadaman di lahan gambut rawan tersebut.
  • Pemerintah akan menyiapkan strategi modifikasi cuaca serta pemantauan darat dan udara untuk mengantisipasi puncak musim kemarau.

SuaraRiau.id - Petugas pemadam gabungan terus berjibaku melakukan penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kabupaten Siak.

Kepala Pelaksana BPBD Siak Novendra Kasmara mengatakan hingga 10 September 2026 luas karhutla di Siak mencapai 273,423 hektare.

Dia mengatakan meski dalam keterbatasan anggaran, alat berat, logistik dan kebutuhan operasional, namun tak menyurutkan mereka melakukan penanganan karhutla di lapangan.

"Tantangan terbesar di lapangan adalah keterbatasan anggaran, alat berat, logistik, serta kebutuhan operasional untuk penanganan kebakaran di lahan gambut," ujar Novendra, Jumat (11/9/2026).

Ia mengatakan, sebanyak 111,33 hektare berada di kawasan hutan, sedangkan sisanya merupakan lahan masyarakat.

Penanganan telah dilakukan secara terpadu sejak status siaga karhutla ditetapkan pada Februari 2026 melalui pembentukan Satgas Karhutla, patroli, mitigasi, serta pelaporan hotspot dan fire spot secara berkala kepada pemerintah provinsi hingga BNPB.

Namun, memasuki Agustus hingga September, eskalasi kebakaran meningkat di sejumlah wilayah, di antaranya Taman Nasional Zamrud, Kampung Dayun, Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu hingga Tasik Betung.

Bagi mereka, pekerjaan itu bukan sekadar memadamkan kebakaran, tetapi menjaga keselamatan masyarakat sekaligus hutan dan satwa yang hidup di dalamnya.

Sementara Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Thomas Nifinluri mengapresiasi langkah tersebut saat berkunjung ke Siak.

"Kami mendapat laporan, kerja sama dan kolaborasi gotong royongnya sangat luar biasa. Memang kerja-kerja seperti ini yang seharusnya terus digelorakan karena menjadi kunci dalam pengendalian karhutla," katanya.

Thomas menilai penanganan karhutla di Siak berjalan berkat kolaborasi dan semangat gotong royong berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, BPBD, perusahaan hingga masyarakat.

Menurutnya, tantangan Siak tidak ringan. Sebagian wilayah kabupaten tersebut berada dalam kawasan hidrologi gambut yang luas dan memiliki kerawanan tinggi terhadap karhutla.

"Memang penting memperhatikan peta kawasan hidrologi gambut karena Kabupaten Siak merupakan daerah yang rawan karhutla. Kami sangat apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut terlibat dalam pengendalian karhutla, luar biasa sekali," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian harus dilakukan secara terukur, terlebih BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada September dan berpotensi berlanjut hingga awal 2027.

Kementerian Kehutanan, kata Thomas, akan menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi meluasnya karhutla dan mencegah Siak kembali diselimuti kabut asap.

Load More