- Festival Pacu Jalur tingkat nasional diselenggarakan di Tepian Narosa, Kuansing, pada tanggal 19 sampai 23 Agustus 2026.
- Panitia mencatat sebanyak 202 perahu dari berbagai daerah telah terdaftar untuk mengikuti perlombaan di Sungai Kuantan tersebut.
- Tradisi turun-temurun sejak abad ke-17 ini kini menjadi ajang perlombaan tahunan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.
SuaraRiau.id - Festival Pacu Jalur tingkat nasional yang akan diselenggarakan di arena gelanggang Tepian Narosa, Kota Teluk Kuantan, Kuansing pada 19-23 Agustus 2026.
Hingga Selasa (18/8/2026), panitia mencatat sebanyak 202 jalur (perahu) telah terdaftar untuk mengikuti Festival Pacu Jalur 2026.
Dengan jumlah tersebut, ratusan jalur siap menghidupkan Sungai Kuantan, menghadirkan persaingan sengit sekaligus menjadi daya tarik utama bagi masyarakat dan wisatawan yang hadir di Tepian Narosa.
Peserta berasal dari berbagai daerah, dengan rincian Hulu Kuantan 8 jalur, Kuantan Mudik 24, Gunung Toar 18, Kuantan Tengah 30, Sentajo Raya 9, Benai 17, dan Inuman 15.
Kemudian Kuantan Hilir 9, Kuantan Hilir Seberang 11, Cerenti 10, Pangean 13, Logas Tanah Darat 2, Singingi 0, Singingi Hilir 1, Indragiri Hulu 31, Sumatera Barat 1, Jambi 1, serta Kuansing 1 jalur.
Pemkab Kuansing berharap Festival Pacu Jalur 2026 tidak hanya menjadi perhelatan olahraga tradisional, tetapi juga menjadi panggung kebudayaan yang memperkuat identitas daerah.
Tradisi asli Riau tersebut sempat menuai perhatian dunia karena tren viral "Aura Farming", yang memperlihatkan atraksi anak-anak penari di ujung perahu dengan gerakan energik.
Pacu Jalur bermula pada abad ke-17, ketika itu perahu jalur dipakai sebagai alat transportasi utama masyarakat desa di Rantau Kuantan.
Perahu kala itu berfungsi mengangkut hasil bumi seperti pisang dan tebu, serta mampu membawa 40 hingga 60 orang sekaligus.
Seiring waktu, mulai bermunculan jalur-jalur yang dihias dengan ukiran artistik seperti kepala ular, buaya, atau harimau pada bagian lambung dan selembayung.
Hiasan tersebut dilengkapi dengan atribut khas seperti payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang), hingga lambai-lambai tempat juru mudi berdiri.
Dengan berjalannya waktu aktivitas ini pun berubah menjadi ajang lomba antar kampung yang digelar saat perayaan adat dan hari besar keagamaan.
Pada masa kolonial Belanda, Pacu Jalur bahkan dijadikan bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, perlombaan ini diadakan setiap Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
Terkini
-
Kabut Asap Karhutla, Pemkab Kuansing Kembali Minta Siswa Belajar dari Rumah
-
Pekanbaru Terapkan Pembelajaran Daring untuk Kesekian Kali, Dampak Kabut Asap!
-
Harga Bahan Makanan Naik Drastis, Emak-emak di Siak: Benar-benar Harus Ngirit
-
Indosat 5G di Pekanbaru, Bikin Streaming hingga Gaming Lancar Jaya
-
Jejak Herry Heryawan di Riau, Naik Pangkat saat Karhutla Masih Jadi Sorotan