Eko Faizin
Rabu, 15 Juli 2026 | 20:15 WIB
Ilustrasi minyak sawit menjadi ekspor Riau yang paling diminati. [ANTARA/HO-SPTP]
Baca 10 detik
  • BPS Riau mencatat total nilai ekspor provinsi mencapai 8,60 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Mei 2026.
  • Komoditas kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Riau dengan pertumbuhan nilai sebesar 13,54 persen secara tahunan.
  • Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Riau dengan kontribusi mencapai 1,55 miliar dolar AS selama periode tersebut.

SuaraRiau.id - Kepala BPS Riau, Asep Riyadi mengungkapkan kenaikan ekspor komoditas kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekspor nonmigas Riau sepanjang 5 bulan pertama tahun ini.

Nilai ekspor komoditas sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 4,69 miliar dolar Amerika atau naik 13,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah lemak dan minyak hewan atau nabati dengan kenaikan mencapai 559,66 juta dolar Amerika atau tumbuh 13,54 persen dibandingkan Januari hingga Mei tahun lalu. Komoditas ini masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Riau," kata Asep Riyadi, Rabu (15/7/2026).

BPS mencatat nilai ekspor Riau selama Januari-Mei 2026 mencapai 8,60 miliar dolar Amerika atau meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

"Pertumbuhan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang naik 9,37 persen menjadi 8,26 miliar dolar Amerika, meski ekspor migas turun 42,83 persen," jelasnya.

Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok tetap menjadi pasar terbesar bagi produk ekspor Riau dengan nilai mencapai 1,55 miliar dolar Amerika atau sekitar 18,72 persen dari total ekspor nonmigas.

Posisi berikutnya ditempati India dengan nilai ekspor 694,01 juta dolar Amerika dan Malaysia sebesar 626,08 juta dolar Amerika.

Ketiga negara tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 34,71 persen terhadap total ekspor nonmigas Riau selama Januari hingga Mei 2026.

Selain produk sawit, komoditas yang mencatatkan pertumbuhan tinggi adalah bahan kimia organik yang melonjak 74,68 persen menjadi 452,71 juta dolar Amerika.

Kemudian berbagai makanan olahan naik 20,20 persen, ampas dan sisa industri makanan meningkat 25,04 persen, serta berbagai produk kimia tumbuh 5,94 persen.

"Di sisi lain, bubur kayu (pulp) menjadi komoditas yang mengalami penurunan terbesar. Nilai ekspornya turun 109,38 juta dolar Amerika atau 13,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan juga terjadi pada komoditas buah-buahan yang merosot 48,05 persen," jelasnya.

Menurut Asep, dominasi produk sawit menunjukkan industri hilir berbasis kelapa sawit masih menjadi motor utama perdagangan luar negeri Provinsi Riau.

"Dari seluruh ekspor nonmigas Riau, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati memberikan kontribusi sekitar 56,82 persen. Artinya, lebih dari separuh ekspor nonmigas Riau masih berasal dari komoditas tersebut," ujarnya.

BPS juga mencatat peningkatan ekspor ke sejumlah negara tujuan utama, di antaranya Tiongkok yang naik 22,22 persen, Amerika Serikat meningkat 16,59 persen, Vietnam tumbuh 17,89 persen, Rusia naik 9,86 persen, serta Italia melonjak 26,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, ekspor ke Bangladesh turun 16,93 persen, Belanda turun 5,16 persen, Malaysia turun 1,59 persen, dan Filipina terkoreksi 1,64 persen.

Load More