Eko Faizin
Jum'at, 10 Juli 2026 | 11:05 WIB
Salah satu sudut kawasan Shibati di Distrik Yuzhong, Chongqing Tiongkok yang merupakan daerah bersejarah berusia 800 tahun. [Suara.com/Eko Faizin]
Baca 10 detik
  • Partai Komunis Tiongkok merayakan 105 tahun berdirinya pada Juli 2026 sejak dibentuk pertama kali tahun 1921 silam.
  • PKT berhasil memimpin transformasi Tiongkok dari kemiskinan menuju ekonomi terbesar kedua dunia melalui berbagai kebijakan pembangunan strategis.
  • Konsul Jenderal Tiongkok di Medan menyatakan komitmen PKT mewujudkan kesejahteraan rakyat serta memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia.

SuaraRiau.id - Partai Komunis Tiongkok (PKT) memperingati 105 tahun masa berdirinya pada Juli 2026. Lahir 1921 silam, ketika kondisi Tiongkok lama dilanda berbagai krisis, hingga kini memimpin pembangunan modernisasi ala Tiongkok.

Konsul Jenderal Republik Tiongkok di Medan, Huang He menyatakan PKT senantiasa berpegang teguh pada misi awalnya, yaitu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Tiongkok dan kebangkitan bangsa Tionghoa.

"Dengan misi tersebut, PKT telah memimpin rakyat Tiongkok menempuh jalan menuju kemakmuran bersama serta menciptakan pencapaian yang luar biasa dalam sejarah peradaban manusia," katanya, Kamis (9/7/2026).

Huang He menjelaskan, lebih dari seratus tahun yang lalu, China berada dalam keterpurukan akibat sistem masyarakat semi-kolonial dan semi-feodal.

Kemiskinan, keterbelakangan, perebutan kekuasaan oleh kekuatan militer lokal, perang saudara yang berkepanjangan, serta agresi asing membuat masa depan bangsa berada di ambang kehancuran.

Bahkan Provinsi Shandong, kampung halaman Konfusius, pernah dijadikan bahan tawar-menawar oleh negara-negara besar.

Pada saat yang menentukan itulah PKT lahir. Setelah melalui perjuangan berat selama 28 tahun, partai ini memimpin rakyat Tiongkok menggulingkan imperialisme, feodalisme, dan kapitalisme birokrat, dan mengalahkan agresi militer Jepang.

PKT lantas mendirikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), sekaligus mengakhiri lebih dari satu abad penghinaan nasional sejak Perang Candu.

Setelah berdirinya Tiongkok Baru, PKT memimpin rakyat Tiongkok mempertahankan kedaulatan negara sekaligus melaksanakan transformasi sosialis dan pembangunan ekonomi.

Di tengah blokade dan embargo dari Barat, dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun Tiongkok berhasil membangun sistem industri dan pertahanan nasional yang mandiri, serta mengembangkan teknologi strategis "Dua Bom dan Satu Satelit", sehingga meletakkan fondasi kokoh bagi kelangsungan hidup dan pembangunan negara serta memperkuat kemampuan Tiongkok dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.

Pada tahun 1978, Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral PKT ke-11 diselenggarakan, menandai dimulainya era baru reformasi, keterbukaan, dan pembangunan modernisasi sosialis.

Dengan berpegang pada prinsip membebaskan cara berpikir dan mencari kebenaran berdasarkan fakta, PKT memimpin seluruh rakyat bekerja keras sehingga berhasil mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan sosial yang pesat tanpa melakukan penjajahan maupun perampasan terhadap bangsa lain.

"Tiongkok pun berkembang menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia sekaligus negara industri terbesar di dunia," ungkapnya.

Pada tahun 2012, Kongres Nasional ke-18 PKT diselenggarakan dan sosialisme berciri khas Tiongkok memasuki era baru.

Menjelang peringatan seratus tahun berdirinya PKT pada tahun 2020, Tiongkok berhasil menyelesaikan target pengentasan kemiskinan sesuai jadwal.

Hampir 100 juta penduduk miskin berhasil keluar dari kemiskinan, sehingga masalah kemiskinan absolut dapat diatasi untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Tiongkok juga berhasil membangun masyarakat Xiaokang (masyarakat yang hidup dalam kemakmuran moderat), menandai lompatan besar bangsa Tionghoa dari bangkit, menjadi makmur, hingga semakin kuat.

Sejak tahun 1921 hingga sekarang, PKT senantiasa memadukan prinsip-prinsip dasar Marxisme dengan kondisi nyata China serta kebudayaan tradisional Tiongkok yang unggul, sehingga mendorong proses sinifikasi Marxisme.

Dalam proses tersebut lahirlah Pemikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping, Pemikiran Penting "Tiga Representasi", Pandangan Ilmiah tentang Pembangunan, serta Pemikiran Xi Jinping tentang Sosialisme dengan Karakteristik Tiongkok untuk Era Baru.

Berbagai teori tersebut telah memperkaya dan mengembangkan Marxisme, memungkinkan Tiongkok menyelesaikan proses industrialisasi yang di negara-negara maju memerlukan waktu ratusan tahun hanya dalam kurun lebih dari tujuh puluh tahun, sekaligus memberikan pengaruh yang mendalam terhadap arah perkembangan sejarah dunia.

PKT senantiasa menjunjung tinggi misi awalnya, yaitu mengupayakan kesejahteraan rakyat Tiongkok dan kebangkitan bangsa Tionghoa, serta berpegang pada filosofi pembangunan yang berpusat pada rakyat agar hasil pembangunan dapat dinikmati secara lebih adil oleh seluruh masyarakat.

Pada tahun 1944, dalam artikel "Melayani Rakyat" (Serve the People), Mao Zedong menyatakan, "Pasukan kita sepenuhnya mengabdi untuk membebaskan rakyat dan sepenuhnya melayani kepentingan rakyat."

Pada tahun 2012, Sekretaris Jenderal Xi Jinping menegaskan dalam pertemuan dengan wartawan setelah Sidang Perdana Biro Politik Komite Sentral PKT, "Aspirasi rakyat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik merupakan tujuan perjuangan kita."

Selama lebih dari satu abad, PKT tetap berpegang teguh pada aspirasi awal dan misinya, selalu menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama, sehingga berhasil meraih berbagai pencapaian besar dan memperoleh dukungan luas dari rakyat Tiongkok.

Sejak hari pertama berdirinya RRT, negara ini telah menempatkan pengabdian kepada masyarakat dunia sebagai salah satu misinya.

Tiongkok menyadari bahwa tanpa dukungan rakyat dunia, perjuangan revolusi dan pembangunan Tiongkok tidak mungkin mencapai keberhasilan.

"Kini, sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok memandang dirinya memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat internasional," tutur Konsulat Tiongkok.

Dia mengungkapkan, Presiden Xi Jinping membuat Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan (Belt and Road Initiative) serta Komunitas Senasib Sepenanggungan bagi Umat Manusia, yang mendorong berbagai negara untuk berpegang pada prinsip konsultasi bersama, pembangunan bersama, dan manfaat bersama, demi membangun dunia yang damai, aman, makmur, terbuka, inklusif, bersih, dan indah.

Tiongkok dan Indonesia merupakan dua negara tetangga yang dipisahkan oleh lautan. Hubungan persahabatan antara kedua bangsa telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun.

Kepulauan Sumatera menjadi saksi hidup kejayaan Jalur Sutra Maritim kuno serta persahabatan tradisional antara Tiongkok dan Indonesia.

Saat ini, pemerintah dan rakyat Indonesia tengah berupaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

"Sebagai sahabat dan tetangga yang bersahabat, Tiongkok siap bergandengan tangan dengan Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas Kemitraan Strategis Komprehensif antara kedua negara," tegas Huang He.

Pihaknya pun akan saling mendukung dalam proses modernisasi masing-masing, serta bersama-sama menciptakan kehidupan yang lebih bahagia dan lebih baik bagi kedua bangsa.

Load More