- Harga kelapa sawit yang jatuh dikeluhkan para petani di Kabupaten Siak.
- Harga TBS anjlok hingga level Rp2.000 per kilogramnya dalam sepekan terakhir.
- Penghasilannya tak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga.
Penghasilan tersebut, digunakan kembali untuk biaya hidup sehari hari. Menurutnya nilai Rp4 juta tidak mencukupi membiayai kebutuhan hidup keluarga yang ditambah dengan biaya anak sekolah dan kuliah.
"Sekarang kebutuhan pokok mahal, artinya biaya hidup akan lebih tinggi, belum lagi harus mengirim untuk biaya anak kuliah. Tentunya ini akan semakin sulit," kata dia.
Rizky, warga Kecamatan Mempura juga mengeluhkan hal yang sama atas penurunan harga kelapa sawit beberapa hari terakhir ini.
Sebelumnya, harga TBS di Siak berada di kisaran Rp3.100 per kilogram, kini turun menjadi Rp1.950 hingga Rp2.100.
Kondisi ini tentunya menjadi keluhan para petani karena dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat, terutama harga pupuk.
"Turunnya harga sawit sangat berdampak terhadap pendapatan petani di lapangan," kata Rizky.
Dia menyatakan, saat harga jual hasil panen turun, biaya perawatan kebun justru tetap tinggi bahkan cenderung naik.
"Sekarang harga sawit turun dari Rp3.000 jadi Rp2.000. Sementara harga pupuk masih sama, bahkan cenderung naik. Petani jelas berat," ujar Rizky.
Ia menilai kondisi tersebut membuat keuntungan petani semakin menipis. Banyak petani yang terpaksa mengurangi pembelian pupuk karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan hasil panen.
"Kalau kondisi bertahan seperti ini, bisa jadi kebun sawit milik kami setahun sekali baru dipupuk," sebut Rizky.
Fenomena naiknya biaya pupuk di tengah fluktuasi harga sawit juga menjadi perhatian di berbagai daerah sentra perkebunan sawit.
Rizky menyebutkan, harga pupuk non-subsidi mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
"Beberapa bulan terakhir harga pupuk naik gila-gilaan," keluhnya.
Rizky berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga sawit sekaligus mengendalikan harga pupuk agar sektor perkebunan rakyat tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang semakin tinggi.
"Semoga kondisi ini cepat berlalu, harga sawit stabil dan harga pupuk kembali turun," pintanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
Terkini
-
Kasus ISPA di Rokan Hulu Meningkat saat Kabut Asap, Anak-anak Paling Banyak
-
Kabut Asap Kiriman dari Selatan Diklaim Perburuk Kualitas Udara di Riau
-
Kabut Asap Pekat, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar Jarak Jauh
-
Masa Pensiun Lebih Tenang, Siapkan Dana Sejak Dini lewat BRI DPLK di BRImo
-
Sekolah di Pelalawan Pulangkan Siswa Akibat Kabut Asap Memburuk