- Harga kelapa sawit yang jatuh dikeluhkan para petani di Kabupaten Siak.
- Harga TBS anjlok hingga level Rp2.000 per kilogramnya dalam sepekan terakhir.
- Penghasilannya tak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga.
SuaraRiau.id - Seorang petani sawit di Siak, Aidil Kurniawan mengeluhkan harga tandan buah segar (TBS) yang anjlok hingga level Rp2.000 per kilogramnya.
Harga sawit yang anjlok dalam sepekan terakhir tersebut tidak sebanding dengan harga pupuk yang kini semakin mahal.
Dikatakannya, dengan harga sawit hari ini, dan harga pupuk yang semakin mahal, ia semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan anaknya.
"Harga sawit terjun bebas, tapi harga pupuk masih tetap mahal, hidup sudah benar-benar semakin tertekan," kata Aidil kepada Suara.com, Selasa (26/5/2026).
Wawan sapaan akrabnya, menjelaskan bagi petani sawit yang konsisten merawat kebunnya dan pemupukan yang konsisten, dengan harga TBS saat ini sangat mempengaruhi pendapatan dalam setiap bulannya.
Dia memiliki kebun 3 hektare yang berisi 400 batang sawit. Pemupukannya harus dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan metode pupuk tunggal dengan beberapa jenis pupuk dicampur menjadi satu.
"Persemester (6 bulan) saya melakukan pemupukan tunggal. Setahun dua kali. Dalam 3 hektare sekali pupuk dalam satu semester dihitung perbatang menghabiskan Rp35.000," jelas Wawan.
Ia menghitung, setiap semesternya harus merogoh kocek Rp14 juta hanya untuk memupuk kebun sawitnya 3 hektare.
"Setiap semester minimal Rp14.000.000 saya membeli pupuk. Itu dengan harga pupuk saat bulan Februari 2026. Kalau dibeli bulan Mei 2026 akan lebih mahal lagi," hitung Wawan.
Sawit miliknya masih berusia 6 tahun yang sekali panennya menghasilkan 2 ton. Jika dihitung dengan harga saat ini, dengan harga Rp2.000 per kilogram hanya menghasilkan Rp4.000.000 sekali panen.
"Sebulan hasilnya 4 ton dengan harga Rp2.000 saya baru mendapatkan Rp8.000.000 per bulan," tambah Wawan.
Penghasilan tersebut, tentunya belum pendapatan bersih, ia harus mengeluarkan upah panen Rp300.000 per tonnya. Artinya, ia harus mengeluarkan uang Rp1.200.000 dalam sebulan.
"Biaya pupuk setahun Rp28 juta jika dibagikan per bulan, setiap bulan Wawan harus merogoh kocek sebesar Rp2.350.000 hanya untuk pupuk," lanjutnya.
Wawan mengatakan, jika dalam sebulan mendapatkan Rp8 juta, ia harus kembali mengeluarkan uang untuk upah panen, biaya pupuk, dan biaya perawatan, sebesar Rp4 juta setiap bulannya.
"Jadi kalau dihitung betul, dalam sebulan saya mendapatkan penghasilan bersih cuma Rp4 juta," sebutnya.
Penghasilan tersebut, digunakan kembali untuk biaya hidup sehari hari. Menurutnya nilai Rp4 juta tidak mencukupi membiayai kebutuhan hidup keluarga yang ditambah dengan biaya anak sekolah dan kuliah.
"Sekarang kebutuhan pokok mahal, artinya biaya hidup akan lebih tinggi, belum lagi harus mengirim untuk biaya anak kuliah. Tentunya ini akan semakin sulit," kata dia.
Rizky, warga Kecamatan Mempura juga mengeluhkan hal yang sama atas penurunan harga kelapa sawit beberapa hari terakhir ini.
Sebelumnya, harga TBS di Siak berada di kisaran Rp3.100 per kilogram, kini turun menjadi Rp1.950 hingga Rp2.100.
Kondisi ini tentunya menjadi keluhan para petani karena dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat, terutama harga pupuk.
"Turunnya harga sawit sangat berdampak terhadap pendapatan petani di lapangan," kata Rizky.
Dia menyatakan, saat harga jual hasil panen turun, biaya perawatan kebun justru tetap tinggi bahkan cenderung naik.
"Sekarang harga sawit turun dari Rp3.000 jadi Rp2.000. Sementara harga pupuk masih sama, bahkan cenderung naik. Petani jelas berat," ujar Rizky.
Ia menilai kondisi tersebut membuat keuntungan petani semakin menipis. Banyak petani yang terpaksa mengurangi pembelian pupuk karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan hasil panen.
"Kalau kondisi bertahan seperti ini, bisa jadi kebun sawit milik kami setahun sekali baru dipupuk," sebut Rizky.
Fenomena naiknya biaya pupuk di tengah fluktuasi harga sawit juga menjadi perhatian di berbagai daerah sentra perkebunan sawit.
Rizky menyebutkan, harga pupuk non-subsidi mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
"Beberapa bulan terakhir harga pupuk naik gila-gilaan," keluhnya.
Rizky berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga sawit sekaligus mengendalikan harga pupuk agar sektor perkebunan rakyat tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang semakin tinggi.
"Semoga kondisi ini cepat berlalu, harga sawit stabil dan harga pupuk kembali turun," pintanya.
Sementara itu, salah seeorang pemilik toko pupuk, Paino membenarkan telah terjadinya kenaikan pupuk yang cukup signifikan.
"Untuk beberapa jenis pupuk memang mengalami kenaikan yang cukup signifikan," ungkap Paino.
Di tokonya, untuk harga pupuk NPK dari Rp400.000 naik kehl harga Rp600.000, pupuk KCL naik dari Rp300.000 naik ke harga Rp450.000.
"Yang harga stabil hanya pupuk dolomit diangka Rp50.000," bebernya.
Kenaikan tak hanya pada pupuk, untuk pestisida juga mengalami kenaikan harga.
"Untuk racun juga mengalami kenaikan, dari yang biasanya Rp160.000 menjadi Rp200.000," tutupnya.
Kontributor : Alfat Handri
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Pindahkan 308 Pegawai DPRD Riau, Plt Gubri: Setan pun Takut Masuk karena Besar Korupsinya
-
Beli Sabu Dikasih Gula, Warga Pekanbaru Kepergok Polisi saat Cari Bandar Narkoba
-
Viral Selebgram-Anak Bupati di Riau Pesta Narkoba, Ditemukan Pot Getar dan Ganja
-
Harga Sawit Anjlok saat Harga Pupuk Tinggi, Petani Siak: Hidup Benar-benar Tertekan
-
Dibikin Mahasiswa asal Kampar, Internet Banking Palsu Lenyapkan Rp1 Miliar