- Wakapolda Riau Brigjen Hengki Haryadi menjelaskan penyebab kerusuhan di Panipahan.
- Kericuhan hingga aksi perusakan rumah diduga bandar narkoba dipicu perselisihan 2 ibu-ibu.
- Kedua warga ini sempat dimediasi di Polsek Panipahan, namun tak mencapai kesepakatan.
SuaraRiau.id - Polda Riau membeberkan penyebab kericuhan massa serbu rumah terduga bandar narkoba di Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir pada Jumat (10/4/2026).
Wakapolda Riau Brigjen Hengki Haryadi menjelaskan, aksi massa tidak serta-merta dipicu persoalan narkoba, melainkan bermula dari perselisihan dua ibu-ibu yang kemudian meluas.
"Pemicu awalnya adalah keributan dua orang ibu. Salah satunya tidak terima anaknya diberi uang THR lalu diposting di media sosial. Dari situ berkembang dengan saling tuduh hingga memicu emosi," kata Wakapolda, dilansir Riauonline.co.id--jaringan Suara.com, Senin (13/4/2026).
Hengki mengungkapkan, konflik dua emak-emak itu sempat dimediasi di Polsek Panipahan, namun tidak mencapai kesepakatan.
Perselisihan tersebut justru berlanjut di media sosial dan memancing reaksi masyarakat hingga berujung aksi massa.
"Dari situ berkembang, kemudian muncul aksi massa yang berujung perusakan. Ini yang kita sebut sebagai kejadian kontinjensi, muncul secara mendadak," jelasnya.
Meski demikian, Hengki tidak menampik bahwa persoalan peredaran narkoba di wilayah tersebut memang menjadi keresahan masyarakat.
Apalagi, Panipahan merupakan daerah perbatasan yang rawan penyelundupan narkotika.
"Sebagian besar narkoba yang kita ungkap berasal dari luar negeri. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Malaysia, sehingga memiliki kerawanan tersendiri," katanya.
Hengki menegaskan komitmen Polda Riau dalam memberantas narkoba. Dalam kurun waktu 15 bulan terakhir, sebanyak 4.553 tersangka berhasil diamankan, dengan rata-rata 34 tersangka ditangkap setiap bulan.
"Ini menunjukkan komitmen kita terhadap pemberantasan narkoba," tegasnya.
Selain itu, Polda Riau menindak tegas anggotanya yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Sebanyak 18 personel telah diberhentikan dalam periode tersebut.
"Kami zero tolerance terhadap narkoba, termasuk kepada anggota sendiri. Jika ada pelanggaran, akan ditindak tegas," ujarnya.
Untuk mengatasi permasalahan di Panipahan, Polda Riau menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari pembentukan hotline khusus pengaduan narkoba hingga program kampung bebas narkoba.
"Kami juga melibatkan masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah. Penanganan narkoba ini tidak bisa hanya oleh polisi, tapi harus bersama-sama," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ketua PP Siak Terlibat Kecelakaan: Renggut Nyawa Pelajar, Belum Ditetapkan Tersangka
-
Diduga Main HP saat Nyetir, Ketua PP Siak Diperiksa usai Kecelakaan Maut di Perawang
-
Kronologi Kecelakaan Land Cruiser Ketua PP Siak, Tewaskan Pemotor Remaja
-
Land Cruiser Ketua Ormas di Siak Tabrak Motor, Satu Pelajar Tewas, 2 Luka Berat
-
65 Orang Jadi Tersangka Karhutla Riau, Lahan Terbakar Capai 3.394 Hektare