SuaraRiau.id - Peralihan kekuasaan ke Taliban ternyata berdampak krisis pangan dan ekonomi yang menyerang Afghanistan. Akibatnya, banyak warga Afghanistan yang dikabarkan menjual bayi dan anak perempuan mereka untuk bertahan hidup.
Masalah lain yang turut muncul dalam krisis ini adalah peningkatan kasus malnutrisi dan kematian akibat kelaparan, yang paling banyak menyerang anak-anak.
Sebab krisis ekonomi menyebabkan masyarakat tak memiliki kemampuan daya beli, serta tak memiliki akses terhadap perawatan kesehatan.
Sejak Taliban berkuasa disebutkan bahwa hampir 60 persen perempuan yang bekerja di media harus mundur dari pekerjaannya.
Kejadian itu dinilai berdampak buruk sebab menurut Federasi Jurnalis Internasional, lebih dari 90 persen dari mereka merupakan pencari nafkah tunggal.
“Para ibu tidak dapat membayar perawatan antenatal dan postnatal mereka, dan sebagai bukti angka kematian dan kesakitan ibu meningkat pesat, dan juga mempengaruhi kematian anak,” terang mantan Menteri Kesehatan Afghanistan, Dr Wahid Majrooh.
Menurut data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Masyarakat (Kemenkes) awal bulan ini, hampir 13.700 bayi baru lahir dan 26 ibu meninggal pada 2022 karena kekurangan gizi.
Kepala Departemen Nutrisi Direktorat Kesehatan Masyarakat, Dr Abdul Rahman Ulfat menyatakan bahwa di Provinsi Baghlan bahwa dia telah mengamati adanya peningkatan kasus kelaparan dan kekurangan gizi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kepada Al Jazeera, ia menemukan bahwa anak-anak yang berusia di bawah lima tahun adalah yang paling terpengaruh.
Ketika mereka tak mendapat nutrisi yang cukup mereka menjadi yang paling beresiko kehilangan nyawa.
Dia juga melaporkan bahwa orang tua di Afghanistan berbondong-bondong pergi ke rumah sakit dan klinik dengan membawa bayi yang sakit dan anak-anak yang kurus hingga tulang mereka terlihat.
Selain krisis pangan dan kesehatan, lembaga bantuan internasional juga berjuang untuk mengatasi krisis keuangan yang dipicu oleh sanksi internasional.
Seperti diketahui bahwa salah satu yang berpengaruh pada krisis ini adalah sanksi yang dijatuhkan AS dan negara lainnya pada Taliban yang menambah sulitnya akses bantuan yang akan dikirim ke sana. Bank-bank di Afghanistan juga harus sangat berhati-hati dalam melakukan operasi karena kekurangan mata uang di negara tersebut.
Direktur HRW John Sifton mengatakan krisis kemanusiaan Afghanistan adalah krisis ekonomi,
“Orang Afghanistan melihat makanan di pasar tetapi kekurangan uang untuk membelinya. Petugas kesehatan siap menyelamatkan nyawa tetapi tidak memiliki gaji atau persediaan. Miliaran dana bantuan telah dijanjikan tetapi tetap tidak dihabiskan karena bank tidak dapat mentransfer atau mengakses dana,” ucapnya dikutip Hops.id--jaringan Suara.com dari laman Al Jazeera, Jumat (1/3/2022).
Tag
Berita Terkait
-
Pengungsi Afghanistan di Indonesia: Sama Sekali Tidak Ada Jalan Kembali
-
Presiden China Xi JinpingBerharap Pertemuan Para Menlu Buahkan Damai Bagi Afghanistan
-
Buntut Pelarangan Siswi Sekolah, Bank Dunia Bekukan Proyek Senilai Rp 8,6 Triliun di Afghanistan
-
Respon Aturan Larang Siswi Sekolah, Bank Dunia Bekukan Proyek Afghanistan Senilai Rp8,6 Triliun
-
Kembali Dilarang Sekolah, Siswi SMP dan SMA Afghanistan Demonstrasi di Kabul
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Danantara Housing Expo 2026: BRI Tawarkan KPR Dengan Bunga Mulai 2,75%
-
Anggaran Riau Terbatas, SF Hariyanto Ogah Bebani Rakyat dengan Pajak Baru
-
Terdeteksi 198 Titik Panas di Riau, Terbanyak Kedua se-Sumatera
-
AJI Pekanbaru-GREEN for Riau Initiative Gelar Workshop dan Fellowship
-
Menko Muhaimin Iskandar Apresiasi Efektivitas Pemberdayaan PNM di Gresik