SuaraRiau.id - Sebanyak 3.229 balita di Kabupaten Siak berstatus sangat pendek dan pendek atau mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi ketika anak lebih pendek dibandingkan anak-anak lain seusianya, atau dengan kata lain, tinggi badan anak berada di bawah standar.
Standar yang dipakai sebagai acuan adalah kurva pertumbuhan yang dibuat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Dipersentasikan sekitar 9,74 persen balita di Siak gagal tumbuh dan kembang dari total seluruh balita yang ada.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bappeda Siak Wan Yunus dalam sosialisasi stunting. Ia menjelaskan di Siak, angka tersebut didominasi dari Kecamatan Kandis.
"Angka 3,229 balita sangat pendek dan pendek itu, menyebar di hampir seluruh kecamatan, tiga tertinggi berada di Kecamatan Kandis 721 balita, disusul Kecamatan Siak 318 dan Kecamatan Koto Gasib 316 balita,” jelas Wan Yunus.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Siak berupaya memastikan program percepatan penurunan stunting menjadi prioritas di tengah upaya penanganan pandemi Covid-19.
"Sosialisasi ini untuk percepatan penurunan dan pencegahan kasus stunting, sekaligus penetapan lokasi fokus intervensi penurunan stunting terintegrasi," jelas Wan Yunus.
Lebih jauh disampaikan Wan Yunus, standar target WHO prevelensi stunting kurang dari 20 persen, sementara untuk nasional menargetkan turun 3 persen setiap tahunnya.
“Target nasional pada 2024 sekitar 19 persen. Prevelensi Provinsi Riau pada 2018 sebesar 27,4 persen, sementara untuk Kabupaten Siak sendiri pada 2019 prevalensi stunting. sebesar 27,79 persen,” jelasnya.
Stunting ini, lanjut Wan Yunus, merupakan tanggung jawab bersama dalam rangka penurunannya.
“Saya berharap peserta rapat dapat menyepakati komitmen intervensi terintegrasi penurunan stunting di Kabupaten Siak,” ucapnya di ruang rapat Kantor Bappeda.
Lebih lanjut dia juga menjelaskan bagaimana upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi, intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif, sekaligus mengatasi penyebab tidak langsung.
Intervensi gizi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya anak stunting, seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular dan kesehatan lingkungan. Intervensi ini umumnya diberikan oleh sektor kesehatan.
Menurutnya intervensi gizi sensitif mencakup peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi, peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak, serta peningkatan akses pangan bergizi.
“Indikator yang digunakan dalam menetapkan lokus intervensi stunting, antara lain, tinggi prevalensi/persentase angka stunting di kelurahan/kampung, banyaknya jumlah balita stunting di kelurahan/kampung, cakupan layanan yang sangat rendah, dan pendanaan program penurunan stunting yang bersumber dari APBN termasuk DAK, baik fisik maupun nonfisik, APBD Kabupaten Siak, dan APBkam termasuk dana desa,” urainya.
Berita Terkait
-
Menteri Bintang: Perkawinan Anak Sebabkan Ibu Lahirkan Bayi Stunting
-
9 Orang Diperiksa Polisi Terkait Karhutla di Bungaraya Siak
-
Koalisi Bersihkan Riau Minta Jokowi Cabut Kebijakan soal Limbah Batubara
-
Program Pencegahan Terganggu akibat Covid-19, Angka Stunting Naik
-
Asap Pekat Selimuti Upaya Pemadaman Karhutla Puluhan Hektare di Siak
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Harimau Muncul di Bangkinang, BBKSDA Riau Larang Warga Masuk Kebun Raya
-
11 Anggota DPRD Meranti Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga di Eks Lahan SRL
-
Tak Ada Ampun! Kapolda Riau Siapkan Sanksi Berat bagi Polisi Terlibat Narkoba
-
Ketua PP Siak Ditahan usai Jadi Tersangka Kecelakaan Tewaskan Pelajar 16 Tahun
-
KPK Limpahkan Berkas ke Jaksa, Kasus Suap Suhardiman Amby Segera Disidang