- Dinas Kesehatan Riau mencatat 11.370 kasus ISPA akibat kabut asap karhutla dari 1 hingga 14 September 2026.
- Pemerintah daerah membagikan masker gratis, menyalurkan makanan tambahan, serta menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas.
- Tim Medis Darurat diaktifkan penuh dan posko darurat didirikan guna mengantisipasi lonjakan pasien kritis.
SuaraRiau.id - Penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Riau meningkat selama kurun waktu dua pekan di awal September 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Riau Zulkifli mengatakan sejak 1 hingga 14 September, total masyarakat yang terserang ISPA mencapai 11.370 orang.
"Total penderita ISPA di Riau selama periode 1-14 September tercatat sebanyak 11.370 kasus," katanya, Kamis (17/9/2026).
Zulkifli menyampaikan, terjadinya peningkatan kasus ISPA di Riau tersebut diduga akibat kabut asap yang melanda Riau karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski terjadi lonjakan signifikan, dia mengklaim fasilitas kesehatan di daerah terdampak masih sanggup menampung dan melayani para pasien secara maksimal.
Guna menekan dampak buruk ledakan ISPA, Dinas Kesehatan menyebut telah menggalakkan pembagian masker gratis dan kampanye edukasi kesehatan ke masyarakat.
"Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas," ungkapnya.
Zulkifli menuturkan, Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team) di setiap Puskesmas juga telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak.
Pihaknya mengaku juga mendirikan tenda posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk penanganan kritis.
"Langkah darurat ini juga melibatkan akademisi perguruan tinggi serta organisasi profesi kesehatan untuk mendistribusikan masker kepada para pengguna jalan," jelas Zulkifli.
Lebih lanjut, ia mengimbau untuk meningkatkan deteksi dini dengan mendorong masyarakat yang mengalami gejala untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
"Khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia," tegas Zulkifli.