- Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan gugur.
- Ali Khamenei wafat dalam serangan rudal Amerika Serikat dan Israel.
- Semasa menjabat presiden, Ali Khamenei memimpin Iran melawan Irak.
Ia terkena ledakan dari sebuah alat perekam yang diletakkan di mimbar, dan karenanya ia mengalami kelumpuhan di tangan kanan.
Ia kemudian terpilih sebagai Presiden Iran dalam pemilihan umum pada November 1981. Semasa menjabat sebagai presiden, Ali Khamenei memimpin Iran di tengah perang melawan Irak.
Setelah wafatnya Ruhollah Khomeini pada 1989, Majelis Ahli Iran setuju menunjuk Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Khamenei berhasil mengonsolidasikan kekuasaan politik dan agama serta menegaskan pengaruh yang kuat di bidang militer, pengadilan, hingga kebijakan luar negeri.
Ia merupakan pelopor dari "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance) untuk melawan AS dan Israel.
Dengan menjadikan kelompok bersenjata seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman sebagai sekutu di poros tersebut, Ali Khamenei menjadi tokoh kunci yang menentukan posisi Iran dalam konflik di Timur Tengah.
Untuk mengatasi masalah ekonomi akibat sanksi berat dari Barat, Khamenei mendorong konsep "ekonomi perlawanan" yang meliputi peningkatan produksi domestik, pengurangan ketergantungan ekspor minyak, dan mendorong pengembangan berdikari dari pengaruh Barat.
Khamenei terus mendukung pengembangan nuklir Iran sebagai simbol kedaulatan ilmiah dan kekuatan nasional, tetapi ia menolak senjata nuklir dan mengumumkan sebuah fatwa yang melarang pengembangan senjata nuklir oleh Iran. (Antara)