facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Perusahaan di Kuansing Mulai Setop Beli Sawit Petani, Alasannya Terungkap

Eko Faizin Kamis, 19 Mei 2022 | 13:22 WIB

Perusahaan di Kuansing Mulai Setop Beli Sawit Petani, Alasannya Terungkap
Ilustrasi - Sejumlah truk bermuatan kelapa sawit menunggu antrean bongkar muat di salah satu perusahaan pengolahan sawit di Desa Rantau Sakti, Rokan Hulu, Riau, Selasa (16/9). [Antara/Wahyu Putro A]

Selain itu, sejumlah perusahaan kelapa sawit (PKS) mulai berhenti membeli tandan buah segar (TBS) dari petani.

SuaraRiau.id - Larangan ekspor CPO ternyata berpengaruh pada turunnya harga sawit di Riau. Kejadian tersebut tentu saja dikeluhkan para petani sawit Bumi Lancang Kuning belakangan ini.

Selain itu, sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) mulai berhenti membeli tandan buah segar (TBS) dari petani.

Satu di antaranya PKS, PT Wanasari Nusantara yang ada di Kuantan Singingi (Kuansing). Pabrik tersebut mulai tidak menerima buah petani.

Pihak perusahaan mengungkapkan alasan menghentikan membeli TBS sawit petani. Mereka menyatakan satu di antaranya yakni persoalan kapasitas tangki hingga antrean yang terus terjadi sejak beberapa hari tak kunjung selesai.

Humas perusahaan, Nurendro menjelaskan bahwa mulai tak membeli sawit petani per Rabu (18/5/2022). Sebab masih terjadi antrean panjang truk pengangkut sawit.

"Iya mulai besok tidak menerima buah. Ada beberapa alasan, pertama itu karena terjadi antrian panjang. Sehari sampai 150 truk itu di pabrik kita," katanya dikutip dari Riaulink.com--jaringan Suara.com, Rabu (18/5/2022).

Nurendro menyebut pihaknya menghentikan membeli sawit untuk menyelesaikan antrean truk di pabrik lantaran menghindari agar tak busuk.

"Kita mau selesaikan yang antrian dulu. Ini ditambah lagi tangki sudah mau penuh. Kita selesaikan dulu ini biar buah yang ada di mobil antrean tidak busuk. Kasihan nanti petani," jelas dia.

Untuk tangki timbun, Nurendro mengaku sudah nyaris penuh. Sebab saat ini sepi pembeli akibat larangan ekspor CPO dan sejenisnya.

"Kita tangki timbun untuk dijual CPO tidak ada pembeli. Mereka biasakan beli untuk ekspor, tapi ekspor dilarang. Jadi mereka yang mau beli pada nunda dan dampaknya ke kita. Kita sehari itu 1200 ton. Kalau dari petani hanya bisa terima 600 ton/hari," kata Nurendro.

Komentar

Berita Terkait