alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

118 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera, Riau Paling Banyak

Eko Faizin Selasa, 23 Februari 2021 | 08:19 WIB

118 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera, Riau Paling Banyak
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kabupaten Bengkalis. [Ist/Dok Riauonline]

Dengan demikian titik panas di Riau paling banyak hari ini.

SuaraRiau.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Selasa (23/2/2021), mengumumkan prakiraan cuaca dan titik panas (hot spot) di wilayah Riau.

Sesuai update hari ini per pukul 06.00 WIB, di Riau terdeteksi sebanyak 50 hot spot. Meliputi Kabupaten Bengkalis sebanyak 17 titik panas, Dumai 13, Rokan Hilir 12, Siak 6, sementara Pelalawan dan Meranti masing-masing 1 hot spot.

Sedangkan untuk wilayah Sumatera, titik panas terdeteksi sebanyak 118, meliputi Aceh 4, Bengkulu 4, Jambi 2, Sumatera Barat 6, Sumatera Utara 38 dan Kepulauan Riau 14.

Sementara Riau 50 titik panas. Dengan demikian titik panas di Riau paling banyak hari ini.

Lebih lanjut, BMKG juga memprakirakan cuaca di Riau pagi ini cerah berawan hingga berawan. Pada siang hingga sore hari diprediksi akan cerah berawan sampai berawan.

Kemudian pada malam hari akan cerah berawan hingga berawan dan pada dini hari diprakirakan cerah berawan.

Siaga Karhutla Riau
Gubernur Riau Syamsuar telah menetapkan status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk Provinsi Riau, mulai Senin, (15/2/2021) hingga 31 Oktober 2021.

Syamsuar mengatakan, selain bencana pandemi Covid-19 yang kini tengah melanda, Riau juga dihadapkan dengan ancaman bencana kabut asap akibat Karhutla.

"Ditengah bencana non alam pandemi Covid-19 yang masih terjadi ini, potensi bencana lain masih mengancam di Provinsi Riau. Kita ketahui bahwa Riau adalah Provinsi yang rawan bencana kebakaran hutan dan lahan serta asap, dengan potensi gambut yang besar sekitar 54 persen dari total luas Provinsi Riau di Pulau Sumatera," kata Syamsuar, Senin (15/2/2021).

Dia mengungkapkan, bencana Karhutla sudah menjadi isu penting dan menghabiskan APBN dan APBD yang cukup besar. Dana itu dipakai untuk kegiatan penanggulangan karhutla serta kabut asap.

Menurut Syamsuar, posisi geografis Riau yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia menyebabkan asap mudah menyebar ke negara tetangga tersebut, sehingga dapat mengganggu hubungan bilateral antar negara.

"Pada Tahun 2020 kita berhasil menekan terjadinya kebakaran hutan dan lahan menurun sampai 83,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di awal tahun 2021 ini sudah muncul beberapa titik api yang tersebar di sejumlah kabupaten di Provinsi Riau," jelasnya.

Syamsuar menjabarkan, penetapan Status Siaga Karhutla secara perundang-undangan merujuk pada Peraturan Gubernur Riau 9 Tahun 2020 tentang prosedur tetap kriteria penetapan status keadaan bencana dan komando satuan tugas pengendalian bencana kebakaran hutan dan lahan di Riau.

"Maka dengan melihat situasi terkini, status siaga darurat bencana Karhutla di Riau tahun 2021, ditetapkan mulai tanggal 15 Februari sampai dengan 31 Oktober 2021 mendatang," tegas dia.

Komentar

Berita Terkait