alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Buzzer Disebut Tak Kejar Substansi Kritikan, Tapi Bunuh Karakter Orang

Eko Faizin Jum'at, 12 Februari 2021 | 09:35 WIB

Buzzer Disebut Tak Kejar Substansi Kritikan, Tapi Bunuh Karakter Orang
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis ditemui di Jakarta, Kamis (23/1/2020). [Antara/Anom Prihantoro]

Ia angkat bicara dan menilai jika keberadaan buzzer saat ini sulit diidentifikasi.

SuaraRiau.id - Polemik buzzer kini muncul kembali. Buzzer dinilai mulai meresahkan di sosial masyarakat seperti sekarang ini.

Tak sedikit yang mengomentari keberadaan buzzer, tak terkecuali Ketua MUI KH Dr M Cholil Nafis. Ia angkat bicara dan menilai jika keberadaan buzzer saat ini sulit diidentifikasi.

Cholil mengatakan beberapa tanggapannya terkait keberadaan buzzer yang dianggap mulai meresahkan. Ia bahkan mengibaratkan buzzer sebagai pemakan daging saudaranya sendiri.

Secara jelas, Cholil dalam wawancana yang tayang di kanal Youtube milik Hersubeno Arief, Hersubeno Point menyebut jika tidak ada definisi jelas terhadap buzzer. Hanya ada dua klasifikasi yang bisa dikategorikan yakni buzzer positif dan negatif.

Cholil kemudian menyebut saat ini, buzzer justru dinilai lebih banyak yang negatif dibanding positif.

“Karena memang definisinya masih kontroversi, tetapi kesannya konotasi di mata orang buzzer itu adalah negatif, karena orang bayaran untuk menyampaikan sesuatu dari orang lain,” jelas Cholil dikutip dari Hops.id--jaringan Suara.com.

Kondisi banyaknya buzzer negatif menurut Cholil bisa dilihat dari perkembangan opini dan isu yang ramai di media sosial. Banyak buzzer yang memberikan penilaian dan pandangannya lebih banyak ke arah pembunuhan karakter seseorang.

Kata dia, kritik yang diberikan dan berkembang di berbagai media sebagai corong penyebaran informasinya bukan lagi bisa dinilai sebagai substansi kritik namun menyerang orang secara pribadinya.

Kondisi inilah yang membuat buzzer saat ini arahnya lebih negatif.

“Ketika mengkritik bukan substansi kritiknya yang dikejar, tetapi orangnya yang dibunuh karakternya, ya kita kan kalau imbang apple to apple, sama-sama ngerti kita diskusi kan nyaman,” ujarnya.

Komentar

Berita Terkait