Gegara Beda Pilihan Saat Pilkada, Pemilik Tanah Usir 3 Keluarga Pengontrak

Persoalan beda pilihan dalam Pilkada Kota Solok, tiga keluarga pengontrak diusir pemilik lahan.

Chandra Iswinarno
Senin, 07 Desember 2020 | 04:55 WIB
Gegara Beda Pilihan Saat Pilkada, Pemilik Tanah Usir 3 Keluarga Pengontrak
Korban pengusiran lantaran beda pilihan di Pilkada kota Solok 2020 saat memindahkan barang-barangnya ke kontrakan lain. (Ist)

SuaraRiau.id - Jelang Pilkada Serentak 2020, ada-ada saja kelakuan pendukung pemimpin daerah dalam memaksakan dukungan kepada orang lain. Persoalan seperti itu terjadi di Kota Solok, Sumatera Barat (Sumbar).

Peristiwa tidak mengenakan dialami tiga kepala keluarga yang mengontrak di kawasan Kandang Aur, Kelurahan Simpang Rumbio, Kecamatan Lubuk Sikarah. Mereka diusir oleh pemilik tanah, lantaran beda dukungan dalam Pilkada Solok.

Parahnya lagi, ketiga keluarga tersebut hanya diberi waktu dua hari untuk pindah dari kontrakan. Jika tidak mau, rumah kontrakan bakal dibongkar pemilik tanah.

Menurut seorang kepala keluarga yang diusir dari kontrakan, Misriyanto, awalnya mereka didatangi oleh pemilik kontrakan.
Dari pernyataan yang punya kontrakan, jika mereka tidak pindah, maka pemilik tanah mengancam akan membongkar bangunan rumah kontrakan yang disewakannya.

"Kami didatangi oleh pemilik rumah kontrakan, kalau kami tidak pindah dalam dua hari bangunan akan dibongkar oleh si pemilik tanah. Alasannya hanya beda pilihan (mendukung Paslon)," ujar Misriyanto saat ditanya wartawan seperti dilansir Klikpositif.com-jaringan Suara.com.

Baca Juga:Jelang Pilkada 9 Desember, 13 Situs Pemkab Malang Diretas 'Kucing Hitam'

Selain keluarganya, dua tetangga lain yang juga mengontrak di tempat sama kena usir. Hal itu lantaran mereka sama-sama mendukung kandidat yang sama dengan Misriyanto.

"Kalau Saya memilih paslon yang sesuai dengannya (pemilik tanah) InsyaAllah kami tidak diusir. Tapi ini karena kami berbeda, dari tiga keluarga ini ada yang kordinator relawan, tim relawan. Padahal jatuh tempo pembayaran masih lama," katanya.

Dikatakan Misriyanto, keluarganya sudah 3 tahun tinggal di kontrakan tersebut.

Sebelumnya aman damai saja, tidak ada persoalan dengan pemilik tanah. Bahkan, dirinya juga tidak kenal karena hanya berurusan dengan pemilik kontrakan.

"Saya tidak kenal dengan pemilik tanah, hanya tahu hanya si pemilik bangunan. Pemilik tanah dan pemilik bangunan berbeda, jadi pemilik bangunan ini sewa tanah dan membangun rumah kontrakan, jadi kami sewa rumah ke pemilik bangunan," bebernya.

Dia juga menyebutkan, dari informasi yang didapatnya, kejadian serupa juga menimpa warga lainnya di kota Solok, namun tidak ada yang berani melawan.

Baca Juga:Cegah Klaster Pilkada, Anggota Brimob Tes Swab Sebelum Bertugas

"Kabarnya kejadian seperti ini juga ada di tempat lain, tapi orang tidak berani melawan. Saya memang ngontrak tapi tak ingin dijajah. Kami bebas menentukan pilihan di zaman sekarang, undang-undangnya berlaku. Hak suara kami ada,"tuturnya.

Saat ini, Misriyanto sudah mendapat bantuan rumah kontrakan lain termasuk untuk dua tetangga. Dirinya bersama sudah pindah dari lokasi kontrakan semula.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini