Eko Faizin
Kamis, 17 September 2026 | 12:52 WIB
Kabut asap tampak menyelimuti Jalan HR Soebrantas arah Flyover Pasar Pagi Arengka Pekanbaru, Kamis (17/9/2026). [Suara.com/Eko Faizin]
Baca 10 detik
  • Kualitas udara Pekanbaru pada Kamis pagi, 17 September 2026, berada dalam kategori Sangat Tidak Sehat akibat kabut asap karhutla.
  • BMKG melaporkan lonjakan konsentrasi PM2.5 yang memicu penurunan drastis jarak pandang, sehingga warga diminta meningkatkan kewaspadaan.
  • Lonjakan tersebut disebabkan oleh ribuan titik panas karhutla yang tersebar di berbagai wilayah Pulau Sumatera, termasuk Riau.

SuaraRiau.id - Kualitas udara Pekanbaru kembali berada dalam kategori Sangat Tidak Sehat pada Kamis (17/9/2026) pagi seiring kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data pemantauan kualitas udara menunjukkan tingkat konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Pekanbaru menyentuh angka 142,5 mikrogram per meter kubik (μg/m3).

Kabut Asap bersumber dari karhutla di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Provinsi Riau. Kondisi ini telah berlangsung secara konstan sejak tengah malam.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella R Adelia mengatakan sepanjang hari dari pagi hingga dini hari, wilayah Pekanbaru didominasi udara kabur hingga berawan.

"Partikel asap yang pekat diprakirakan terus menekan jarak pandang secara drastis, sehingga warga diminta ekstra waspada saat beraktivitas di luar ruangan," ujar Bella, Kamis (17/9/2026).

Kondisi kabut asap yang parah ini berkolerasi erat dengan melonjaknya jumlah titik panas (hotspot) karhutla di Pulau Sumatera yang menembus angka 4.737 titik.

"Provinsi Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 3.200 titik, disusul Jambi sebanyak 511 titik dan Bangka Belitung 503 titik," katanya.

Bahkan, sejak pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, grafik konsentrasi PM2.5 sempat melonjak tajam di kisaran 155 hingga 226 μg/m3.

Kenaikan drastis ini mempertegas kepungan asap yang belum kunjung terurai.

Selain tingginya PM2.5, pengukuran pencemar udara lainnya turut mencatat angka yang mengkhawatirkan pada pagi hari.

Konsentrasi PM10 melonjak hingga 211,4 μg/m3, disusul parameter gas ozon (O3) sebesar 30,8 μg/m3, nitrogen dioksida (NO2) 22,5 μg/m3, dan sulfur dioksida (SO2) sebesar 14,1 μg/m3.

Kondisi udara rabun ini berbanding lurus dengan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Untuk wilayah Riau sendiri, terdeteksi sebanyak 225 titik panas. Kabupaten Indragiri Hulu menjadi penyumbang terbesar dengan 135 titik, disusul Kampar 44 titik, dan Indragiri Hilir 34 titik.

Penyebaran sisanya tersebar di Dumai (3), Pelalawan (3), Rokan Hulu (2), Siak (2), Bengkalis (1), dan Kuantan Singingi (1).

Peluang hujan ringan diprakirakan membasahi sebagian wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti, Pelalawan, Bengkalis, Siak, dan Rokan Hulu pada siang hingga sore hari.

Load More