Eko Faizin
Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:50 WIB
Gajah sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). [Suara.com/Eko Faizin]
Baca 10 detik
  • Anak gajah Domang di Taman Nasional Tesso Nilo menjadi viral dan meningkatkan perhatian publik terhadap gajah Sumatera.
  • Populasi gajah Indonesia menurun drastis akibat konversi hutan, pembangunan infrastruktur, perburuan ilegal, serta ancaman virus mematikan.
  • Menteri Kehutanan melaporkan enam kematian gajah sejak November 2025 hingga Juni 2026 di kawasan konsesi.

SuaraRiau.id - Warganet menyaksikan tumbuh kembang Domang, si anak gajah, dengan segala tingkah lucunya melalui media sosial Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Gajah yang lahir pada 2 Desember 2021 menjelma menjadi salah satu "selebriti gajah online" yang paling dikenal di Nusantara.

Ketenaran Domang turut meningkatkan perhatian masyarakat terhadap salah satu satwa dilindungi Indonesia yang kini berada dalam kondisi terancam punah, yakni gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan gajah Kalimantan, yang merupakan subspesies dari gajah Asia (Elephas maximus).

Semua spesies gajah di Indonesia kini masuk dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam kategori terancam menuju kepunahan di alam liar.

Menurut data Kementerian Kehutanan (Kemenhut), saat ini tersisa sekitar 21 kantong gajah di Pulau Sumatera, dengan populasi sekitar 1.100 ekor per Juli 2026.

Angka tersebut turun drastis dari 42 kantong dengan estimasi populasi 2.400–2.800 ekor pada 2007.

Sementara itu, di Pulau Kalimantan diperkirakan terdapat 30–80 ekor gajah yang tercatat berada di wilayah Indonesia.

Melihat fakta tersebut, Hari Gajah Sedunia 2026, yang diperingati setiap 12 Agustus, dapat menjadi momentum untuk meningkatkan upaya penyelamatan sekaligus populasi mamalia terbesar di Indonesia tersebut.

Sejumlah faktor masih menjadi ancaman bagi "petani hutan" ini, mulai dari menyempitnya ruang jelajah akibat konversi hutan menjadi perkebunan sawit hingga pembangunan jalan raya dan permukiman yang tidak mempertimbangkan jalur jelajah gajah.

Ekspansi pembangunan besar-besaran tanpa perencanaan yang mempertimbangkan keberlanjutan populasi gajah menimbulkan persoalan baru.

Fragmentasi habitat membuat populasi gajah terpisah satu sama lain karena jalur jelajah mereka berubah menjadi perkebunan, permukiman warga, bahkan jalan tol.

Kondisi ini sekaligus meningkatkan potensi terjadinya interaksi negatif antara manusia dan gajah.

Ketika populasi terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil, risiko perkawinan sedarah meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengurangi kekayaan genetik, meningkatkan risiko kelainan pada gajah yang lahir, serta menurunkan sistem kekebalan tubuh mereka.

Tidak hanya pembangunan, perburuan ilegal juga masih menjadi ancaman. Masih ada kepercayaan bahwa gading gajah memiliki manfaat kesehatan, sehingga bagian tubuh satwa tersebut tetap menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan di pasar gelap internasional.

Selain ancaman eksternal, terdapat pula persoalan kesehatan yang menghantui gajah Indonesia, yakni Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), yang dapat menyebabkan kematian anak gajah di sejumlah kawasan konservasi.

Load More