Eko Faizin
Senin, 28 September 2026 | 20:07 WIB
Penampakan kabut asap di Pekanbaru imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). [Ist]
Baca 10 detik
  • BMKG Pekanbaru mendeteksi tiga daerah di Riau terselimuti kabut asap tebal pada 28 September 2026.
  • Lonjakan titik panas akibat karhutla di Sumatera mencapai 778 titik dan didominasi wilayah Sumatera Bagian Selatan.
  • Kabut asap tersebut memicu penurunan jarak pandang secara signifikan di Pekanbaru, Indragiri Hulu, dan Pelalawan.

SuaraRiau.id - BMKG Pekanbaru mendeteksi tiga daerah di Provinsi Riau mulai kembali diselimuti kabut asap tebal, Senin (28/9/2026) hingga pukul 16.00 WIB.

Fenomena kabut asap ini terjadi seiring pesatnya lonjakan jumlah titik panas (hotspot) diduga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi di berbagai wilayah di Pulau Sumatera.

Secara keseluruhan, total titik panas di Sumatera telah menembus angka fantastis, yakni sebanyak 778 titik yang tersebar di delapan provinsi.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Gita Dewi S menjelaskan bahwa sebaran hotspot terbesar saat ini didominasi oleh wilayah Sumatera Bagian Selatan.

"Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan jumlah terbanyak dengan 424 titik, disusul oleh Jambi sebanyak 148 titik, serta Bangka Belitung dengan 115 titik panas," ujar Dewi, Senin (28/9/2026).

Sementara itu, untuk Riau sendiri, satelit mendeteksi sebanyak 11 titik panas yang terdistribusi di beberapa kabupaten.

Sebaran titik panas tersebut berada di Kuantan Singingi sebanyak 2 titik, Pelalawan 3 titik, Rokan Hulu 1 titik, Siak 2 titik, serta Indragiri Hulu sebanyak 3 titik.

"Kabupaten Indragiri Hulu tercatat menyumbang 3 titik panas," ujar Dewi saat merincikan peta persebaran titik panas di wilayah Riau pada sore hari tersebut.

Meski jumlah hotspot lokal di Riau tergolong jauh lebih sedikit dibandingkan provinsi tetangga, dampak partikel polutan asap mulai dirasakan nyata di wilayah permukaan.

"Tiga daerah utama yang saat ini terkonfirmasi diselimuti kabut asap secara langsung adalah Kota Pekanbaru, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kabupaten Pelalawan," ucap Dewi.

Dampak dari fenomena kabut asap ini langsung memicu penurunan jarak pandang (visibility) secara signifikan di sejumlah wilayah pada pukul 16.00 WIB.

Di Kota Pekanbaru, jarak pandang tercatat menurun drastis menjadi hanya 4 kilometer akibat tertutup material asap pekat.

"Kondisi serupa dialami oleh daerah Rengat (Indragiri Hulu) dan Kabupaten Pelalawan yang sama-sama mencatatkan jarak pandang berkisar di angka 5 kilometer akibat tumpukan asap," terang Dewi.

BMKG menyarankan masyarakat dan pihak pengelola penerbangan untuk terus memantau pembaruan cuaca guna mengantisipasi risiko penurunan kualitas udara dan gangguan jarak pandang yang lebih parah.

Load More