- Seorang dokter klinik di Unri terlibat dugaan pelecehan seksual terhadap mahasiswi.
- Kepala Klinik Pratama Unri menyebut terduga pelaku sudah dinonaktifkan sementara.
- Pihak klinik menyatakan, terduga pelaku tidak menunjukkan perilaku mencurigakan.
SuaraRiau.id - Oknum dokter klinik Universitas Riau (Unri) diduga melakukan pelecehan seksual terhadap pasiennya yang sebagian besar merupakan mahasiswi.
Kepala Klinik Pratama Unri, dr Yusdiana menuturkan jika terduga pelaku yang berinisial L telah dinonaktifkan sementara sejak kasus ini mencuat.
"Benar sudah dinonaktifkan sampai proses selesai. Pihak klinik juga sudah berkoordinasi dengan rektorat dan rumah sakit Unri untuk meminta tambahan satu dokter lagi," ujarnya melansir Riauonline--jaringan Suara.com, Rabu (29/4/2026).
Puluhan mahasiswi Unri dilaporkan menjadi korban dalam kasus yang diduga telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu.
Yusdiana menyampaikan, selama ini terduga pelaku dikenal memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja di lingkungan klinik. Dalam keseharian, tidak terlihat adanya perilaku mencurigakan.
"Dalam pergaulan sehari-hari di klinik biasa saja, baik dan bisa menyesuaikan dengan rekan-rekan. Kalau ada rapat atau acara juga selalu ikut, jadi di lingkungan kami tidak ada sesuatu yang aneh," jelasnya.
Meski demikian, dia mengaku baru mengetahui dugaan kasus tersebut pada Jumat pekan lalu.
Selama ini, pihak klinik tidak pernah menerima laporan baik dari pasien maupun tenaga medis terkait dugaan tindakan tidak pantas tersebut.
"Saya baru tahu kasus itu Jumat pekan lalu. Sebelumnya tidak ada laporan yang masuk," sebut Yusdiana.
Terkait mekanisme pelayanan, dr Yusdiana menyebut bahwa pemeriksaan pasien pada umumnya didampingi oleh perawat.
Namun dalam kondisi tertentu, seperti saat jumlah pasien membludak, pendampingan tidak selalu bisa dilakukan secara maksimal karena perawat harus melakukan proses skrining awal.
"Untuk sebenarnya dokter melakukan pemeriksaan didampingi perawat, tapi kadang pasien numpuk jadi tidak bisa mendampingi karena harus melakukan screening awal," ungkapnya.
Meski demikian, untuk kasus tertentu yang membutuhkan pendampingan, dokter biasanya akan meminta bantuan tenaga medis lain yang sedang bertugas.
Di tengah mencuatnya kasus ini, dr Yusdiana memastikan bahwa pelayanan di klinik tetap berjalan normal dan aktivitas pasien tidak terganggu.
"Sampai saat ini klinik masih aman dan pasien masih berkunjung seperti biasa," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Mau Gratiskan Pendidikan SD hingga Universitas Negeri, Dananya dari Uang Korupsi
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Viral Video Ulama Houthi Serukan Serangan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- 6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
- Viral Foto Duduk Bareng, Terungkap 6 Momen Kedekatan Gubernur Sherly dan Ahmad Luthfi
Pilihan
-
Silmy Karim Kritik KPK! Bandingkan Nasibnya dengan Nusron Wahid
-
Perang Dunia III Nyaris Meledak! AS Mau Serang Kapal China Ternyata AI-nya Salah
-
Petaka 2 Batang Kayu Jati: Ayah Dibui demi Sesuap Nasi, Anak di Bojonegoro Mogok Sekolah Dibully
-
Sejarah Terulang! Beras Premium Kini Langka di RI
-
Emil Audero dan 5 Pemain Tinggalkan Rayo Vallecano
Terkini
-
Hujan Guyur Pekanbaru yang Tengah Dikepung Kabut Asap
-
Viral Kopdes Bakal Dibangun di Lokasi Taman Poltek Rumbai Pekanbaru
-
Keji, Pria Pengangguran Rudapaksa Anak Bawah Umur di Kampar
-
Tersangka Karhutla di Siak Ditangkap: Sempat Buron, Halangi Pemadaman demi Sawit
-
Jelajahi Karya Lokal di BRIZZI ARKIV, Ada di Blok M Hub!