Eko Faizin
Sabtu, 31 Januari 2026 | 21:09 WIB
Jeni Adilasari, Account Officer (AO) PNM Mekaar. [Dok PNM]
Baca 10 detik
  • Jeni Adilasari merupakan Account Officer (AO) PNM Mekaar yang gigih.
  • Hidup Jeni benar-benar berjuang membangun masa depan keluarga.
  • Melalui program Employee Reward PNM, dia dapat apresiasi terbaik.

SuaraRiau.id - Setiap pukul 3 dini hari, ketika sebagian besar anak seusianya masih terlelap, Jeni Adilasari sudah terbiasa terjaga.

Di sebuah rumah sederhana di Bojonegoro, sejak duduk di bangku SMP, Jeni membantu ibunya membungkus nasi untuk dijual.

Beberapa bungkus tak hanya dititipkan ke warung, tetapi juga dibawanya sendiri ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya.

Hari-hari Jeni diwarnai perjuangan. Hidup tak pernah benar-benar memberi ruang untuk pilihan lain selain membantu.

Sepulang sekolah, ia kerap tak menemukan ibunya di rumah. Hingga suatu sore, rasa penasaran membawanya bertanya pada tetangga.

Jawabannya sederhana, namun membekas kuat di ingatannya, ibunya sedang "sekolah" di Mekaar.

Di lingkungan tempat tinggalnya, "sekolah" bukan berarti ruang kelas dengan papan tulis.

Itulah istilah warga untuk menyebut Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) para nasabah PNM Mekaar, ruang belajar bersama ibu-ibu untuk mengelola usaha, keuangan, dan harapan.

Dari situlah Jeni mulai memahami bahwa ibunya bukan sekadar berjualan, tetapi sedang berjuang membangun masa depan keluarga.

"Sejak itu saya punya tekad. Kalau ibu-ibu seperti ibu saya saja mau belajar dan berani bermimpi, saya ingin suatu hari bisa berdiri di samping mereka," kenang Jeni.

Niat itu tak pernah surut. Setelah lulus SMA, Jeni tak ragu melangkah mendaftar sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar.

Baginya, Mekaar bukan sekadar tempat bekerja. Program itulah yang membantu ibunya mendapatkan modal, belajar mengelola usaha, dan perlahan menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi keluarga mereka.

Lima tahun bergabung, Jeni bukan hanya menyaksikan perubahan pada nasabah-nasabah yang ia dampingi, tetapi juga pada dirinya sendiri.

Jeni menyimpan daftar impian, hal-hal yang dulu terasa mustahil dan satu per satu mulai tercentang.

Dari membantu ekonomi keluarga, menjadi tumpuan bagi adik-adiknya, hingga mimpi yang paling ia simpan rapat yaitu menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Load More