- Seorang pria di Pekanbaru menjadi korban pemerasan modus VCS
- Para pelaku merupakan sepasang kekasih
- Gara-gara pemerasan, korban harus kehilangan Rp1,6 miliar
SuaraRiau.id - Kasus pemerasan modus video call seks (VCS) akhirnya terungkap dengan korban seorang pria beristri di Pekanbaru yang merupakan pengusaha sawit.
Ditreskrimsus Polda Riau mengamankan dua pelaku yang memeras korban hingga total kerugian mencapai Rp1,6 miliar.
Para tersangka Sisilia Hendriani (24) dan Syamsul Zekri (34) yang merupakan sepasang kekasih dibekuk setelah petugas dilakukan penelusuran jejak digital dan analisis media sosial.
Direskrimsus Polda Riau, Kombes Pol Ade Kuncoro Ridwan menjelaskan modus Sisilia diam-diam mengambil tangkapan layar (screenshot) dari momen VCS itu.
"Gambar hasil tangkapan layar itu kemudian digunakan untuk mengancam korban agar mentransfer sejumlah uang," ujar Kombes Ade.
Direskrimsus menjelaskan, hubungan antara korban dan pelaku perempuan berawal dari perkenalan di sebuah tempat hiburan malam pada 2019. Keduanya kemudian intens berkomunikasi lewat media sosial.
Pada Agustus 2023, korban kembali menghubungi Sisilia dan menawarkan uang Rp1 juta untuk melakukan VCS. Meski sempat menolak, pelaku akhirnya menyetujui permintaan tersebut.
Dalam pesan WhatsApp, pelaku mengirim foto yang hanya bisa dilihat sekali sambil menulis ancaman, "Kau kirim uang, kalau tidak kusebarkan foto kau."
Kedua tersangka ditangkap di lokasi berbeda.
Sisilia diamankan di kosnya di Jalan Surya, Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukitraya, sementara sang pacar Syamsul dibekuk di rumahnya di Perumahan Bumi Garuda Sakti, Pekanbaru.
Kasus ini terungkap setelah korban melapor ke Polda Riau pada 3 Agustus 2025. Dalam laporannya, korban mengaku diancam akan disebarkan rekaman saat melakukan video call seks melalui Instagram dan WhatsApp jika tidak mengirimkan sejumlah uang.
Takut rahasianya terbongkar kepada sang istri, korban pun menuruti permintaan pelaku dan mentransfer uang pertama sebesar Rp10 juta ke rekening atas nama Mhd Rafi, yang disediakan oleh pelaku kedua, Syamsul.
Ancaman dan transfer uang itu terus berlanjut selama dua tahun, sejak Agustus 2023 hingga Agustus 2025. Korban secara bertahap mengirim uang kepada pelaku hingga total mencapai Rp1,6 miliar.
Dalam kasus ini Sisilia berperan sebagai penyedia rekening sekaligus pengatur aliran dana hasil kejahatan.
Uang hasil pemerasan kemudian digunakan oleh keduanya untuk kebutuhan pribadi, termasuk membeli kendaraan dan perhiasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Eks Kanitreskrim Polsek Rupat Utara Disidang Etik Terkait Penganiayaan Warga
-
5 Tahun Holding Ultra Mikro, Perkuat Ekosistem Pembiayaan Keluarga Prasejahtera
-
Jarak Pandang Terganggu, Lion Air Gagal Mendarat di Bandara Pekanbaru
-
Pekanbaru Berawan Tebal, Padang Diprediksi Hujan Ringan
-
Cara PHE NSO Kembalikan Jalan Pulang Gajah Lewat Restorasi Lahan Kritis