Sementara, dari analisis aparat kepolisian, permasalahan karhutla dipicu faktor alam dan manusia. Dari faktor alam, kebakaran lahan gambut memang sulit dipadamkan, terlebih lagi kurangnya ketersediaan sumber air untuk pemadaman, serta musim kemarau yang memicu timbulnya titik api akibat gesekan ranting-ranting pohon.
Adapun dari faktor dari manusia, ada oknum warga yang sengaja membuka lahan untuk dibakar. Lalu, adanya oknum masyarakat yang kurang peduli, cenderung menutup-nutupi ada titik api, dan aktivitas pembalakan liar (illegal logging).
Bahkan, ada juga kebakaran lahan yang terjadi di konsesi perusahaan swasta yang memiliki lahan besar.
"Dengan sinergi serta kerja sama instansi terkait dan dibantu peran aktif dalam penanganan karhutla, insya Allah kita bersama dapat mewujudkan Riau bebas asap tahun 2023 ini," kata Kapolda Riau Irjen Pol Mohammad Iqbal.
Selain itu, sejumlah pihak swasta juga bersiaga mengantisipasi karhutla dengan rutin menggelar latihan atau simulasi pemadaman kebakaran lahan. Baru-baru ini sebuah produsen kertas di Siak menggelar simulasi pemadaman kebakaran lahan dengan mengangkut tim reaksi cepat menggunakan helikopter dan menurunkannya di lokasi munculnya api.
Selain itu, helikopter juga bolak-balik mengangkut 5.000 air dan menumpahkannya ke sekitar area kebakaran dengan tujuan supaya api tidak meluas ke daerah lain.
Dengan seringnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau, provinsi ini seharusnnya sudah berpengalaman dalam penanggulangannya, termasuk menangkap para pembakar yang sengaja menarik keuntungan dari kejadian ini, baik itu oknum masyarakat maupun pengusaha.
Sudah sekitar 3 tahun ini bencana karhutla di Riau ini tidak parah seperti tahun-tahun sebelumnya. Bisa jadi hal itu "terbantu" dengan adanya pandemi Covid-19 selama 2 tahun, dan musim hujan yang berlangsung lama dari biasanya.
Pada tahun ini, Covid-19 sudah mulai lenyap dan kemarau kering diprediksi terjadi, potensi karhutla pun sudah harus diantisipasi. Dengan pengalaman yang dimiliki, seharusnya karhutla bisa dicegah tanpa harus menyalahkan kondisi alam. (Antara)
Berita Terkait
-
Gubernur Syamsuar Jadi Pembina Apel K3, Soroti Kecelakaan Kerja di Perusahaan
-
Jika Terjadi Karhutla yang Besar, Jokowi Sebut Tanggung Jawab 2 Sosok Ini
-
Keseruan Di Balik Fire Fighters League IV, Tingkatkan Kesigapan Cegah Karhutla
-
Akhir Masa Jabatan Syamsuar Disorot, Berikut Bocoran Sosok Pj Gubernur Riau
-
Usai Hujan Ekstrem, BMKG Minta Waspada Karhutla Tahun Depan
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
-
Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
Terkini
-
KPK Periksa Kepala BPK Riau Terkait Kasus Suap Pengondisian Hasil Audit
-
Lokasi Pasar Murah di Lima Titik Wilayah Kampar dan Pekanbaru
-
Bupati Afni Zulkifli Resmi Menjadi Ketua Partai Nasdem Siak
-
Kebakaran Landa Kebun Kelapa di Indragiri Hilir, Diduga Akibat Gambut Mengering
-
Kualitas Udara Pekanbaru Masih Buruk, Siswa Pulang Lebih Awal