SuaraRiau.id - Dokter Tirta Mandira Hudhi menyindir soal PPKM Darurat. Ia menilai kebijakan pengetatan aktivitas warga yang diterapkan mulai 3-20 Juli itu tak efektif.
Dokter Tirta menyebut walau tingkat kesembuhan naik, tetapi tak ada pengurangan signifikan dari kasus Covid-19 di Indonesia.
Tak hanya itu dari segi ekonomi, rakyat kini justru makin menderita karena sulitnya mencari uang.
Ia pun meminta agar PPKM Darurat dievaluasi. Kalaupun pemerintah masih ngotot ingin menerapkan atau memperpanjang PPKM, mereka harus membiayai rakyat yang penghasilannya harian.
Sebab kalau tidak, kata dr Tirta, masalah ke depan justru akan semakin berat.
“Pemerintah itu sekarang pilihannya cuma dua, kalau enggak PPKM, ya warga yang penghasilannya harian ya diurusin. Kalau enggak mereka kalau sakitnya kena covid mereka enggak akan ada uang untuk mengurus,” kata Tirta dilansir dari Hops.id--jaringan Suara.com, dikutip Jumat (16/7/2021).
Tak hanya itu, dia lantas menyinggung jumlah bantuan sosial (bansos) yang diberikan sebagai bentuk kompensasi covid.
Kata Dr Tirta, kompensasi itu sangatlah sedikit. Padahal seharusnya di masa PPKM ini, kata Dr Tirta, jumlah bantuan bisa lebih besar diberikan.
“Bansosnya Rp300 ribu per bulan, bisa buat beli apa? Itu berarti Rp 10 ribu per hari, itu bisa buat beli nasi ndog (telur) terus. Lah kalau anaknya dua bagaimana?” katanya lagi.
Lebih lanjut, Tirta sendiri mengaku selama ini sangat mendukung langkah yang ditempuh Pemerintah.
Tetapi dengan catatan, harus sesuai dengan narasi. Di mana rakyat yang penghasilannya harian harus dibiayai Pemerintah.
Narasi lainnya, melihat kondisi di lapangan. Apakah sudah sesuai dengan tata laksana, dan apakah berimbas pada penurunan kasus. Jika tidak, maka PPKM tidaklah berhasil.
“Kalau enggak setelah 2 minggu ya harus dievaluasi. Sebenarnya rakyat itu pasti mau patuh di rumah. Cuma kalau 2 minggu enggak dikasih apa-apa, makan, ya terpaksa mereka keluar untuk cari makan,” sebutnya.
“Kalau enggak ya enggak usah PPKM, paling Pemerintah dikritik ahli epidemiologi, dan itu harus minta maaf. Pilihannya cuma itu saja.” sambung dr Tirta.
Berita Terkait
-
Dukung PPKM Darurat Diperpanjang, Persatuan Perawat: Kalau Sadar, Tak Perlu Pakai Aparat
-
Kejar Target Herd Immunitiy, BRI Gelar Vaksinasi di Surabaya
-
Ferdinand Hutahaean Sebut Ustaz Yahya Waloni Asal Bicara Soal PPKM: Memang Sampah!!
-
Mahfud MD Sentil Alur Ikatan Cinta Berbuntut Dicibir: Momentumnya Kurang Pas
-
Arief Poyuono Beberkan Bukti Video Menteri Berkhianat ke Jokowi
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Iran Bom Markas Besar Angkatan Laut AS! Lalu Tembakkan 75 Rudal ke Israel
-
Sabtu Pagi Teheran Dibom, Sabtu Sore Iran Langsung Kirim Rudal ke Israel
-
Kedubes Iran di Indonesia Kecam Serangan AS-Israel, Sebut Pelanggaran Berat Piagam PBB
-
'Labbaik Ya Hussein', TV Iran Siarkan Lagu Perang, Siap Balas Serangan AS dan Israel
-
Trump Ancam Hancurkan Industri Rudal dan Angkatan Laut Iran
Terkini
-
PNS Disnaker Indragiri Hulu Jadi Pengedar Sabu, Akhirnya Ditangkap
-
Siswa di Bawah Umur di Riau Dilarang Bawa Kendaraan Bermotor ke Sekolah
-
Malam Ramadan, Dua Pria Tanpa Busana Digerebek di Rumah Kontrakan Pekanbaru
-
Sadisnya Mahasiswa UIN Suska Ingin Habisi Wanita Dicintai, Siapkan Kapak dan Parang
-
Kronologi Harimau Serang Pencari Kayu di Dermaga Perusahaan Pelalawan