SuaraRiau.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pekanbaru mendesak polisi menjatuhkan hukuman sesuai aturan pidana yang berlaku terhadap pelaku penyerangan imam Masjid Baitul Arsy saat memimpin jemaah salat pada Jumat (7/5/2021).
Ketua MUI Kota Pekanbaru Akbarizan mengecam aksi tersebut. Dia mengemukakan, penyerangan terhadap imam salat di masjid, sudah kali kedua terjadi.
Sebelumnya, MUI Kota Pekanbaru mencatat terjadi aksi penyerangan terhadap Imam Masjid Al Falah di Jalan Sumatera pada Juli 2020 silam. Saat itu pelaku menyerang korban yang sedang menjadi imam Salat Isya dengan membawa pisau dapur.
"Saya minta, kami dari MUI meminta betul agar polisi mengusut tuntas kasus penyerangan imam," katanya seperti dilansir Riauonline.co.id-jaringan Suara.com pada Jumat (7/5/2021) siang.
Akbarian meminta agar jangan sampai pelaku langsung dituding orang gila. Dia juga mendesak polisi bisa serius memeriksa pelaku secara intensif.
"Jatuhi pelaku hukuman sesuai aturan pidana yang berlaku," tegasnya.
Dia juga menyatakan, polisi harus serius menangani kasus penyerangan terhadap imam masjid. Ia menyebut aparat penegak hukum bisa memproses kasus ini seadil-adilnya.
Terkait pengeroyokan yang terjadi terhadap pelaku, dia menganggapnya sesuatu hal yang wajar bila pelaku langsung dimassa para jemaah masjid saat kejadian.
Dia mengemukakan, jemaah sangat marah ketika imam masjid mendapat serangan dari oknum tidak bertanggung jawab.
Baca Juga: Detik-detik Deni Sebelum Gaplok Imam Masjid: Bisa Dibetulkan Gak Salatnya?
"Wajar bila jemaah marah, kita mengajak agar umat muslim tidak terprovokasi dengan kejadian ini. Aparat harus proses hukum pelaku seterang-terangnya," paparnya.
Sebelumnya diberitakan, aksi pemukulan imam masjid terrekam CCTV. Terlihat pada rekaman tersebut pada rakaat kedua, jemaah sedang membaca doa Qunut, tiba-tiba masuk seseorang yang tidak dikenal dan langsung menerobos jemaah. Pelaku langsung menghampiri imam salat dan melakukan penganiayaan tersebut.
"Pelaku sempat mukul pundak saya dan bilang bisa dibetulin gak salatnya, suaranya keras lagi. Setelah ngomong gitu dia langsung menampar saya. Spontan saya mundur dan jamaah langsung mengamankan pelaku," kata Juhri, yang menjadi korban penganiayaan pelaku dalam peristiwa tersebut.
Juhri mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil interogasi pihak Kepolisian Polsek Tampan, pelaku mengaku nekat melakukan penganiyaan karena risih mendengar suara ngaji.
"Pelaku tadi ditanya mengapa ia masuk masjid itu, terus dijawab pelaku saat sedang berjalan, ia mendengar suara mengaji, karena risih pelaku langsung mendatangi masjid Baitul Arsy," jelasnya.
Pelaku bernama Deni Ariawan tinggal di Perumahan Widya Graha II yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Lalu berdasarkan keterangan keluarga yang menyatakan bahwa benar pria tersebut mengalami gangguan jiwa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Sejumlah Rumah Disegel Buntut Rusuh Protes Isu Bandar Narkoba di Panipahan
-
Wali Kota ke Satpol PP Pekanbaru: Jangan Lagi Ada Pungli ke PKL!
-
Berbatasan dengan Malaysia, Narkoba di Riau Didominasi dari Negara Tetangga
-
Gelombang Protes Narkoba: Kapolsek Dicopot, Jajaran Polsek Panipahan Dirombak
-
Siap-siap, BBRI Bakal Bagikan Dividen Rp52,1 Triliun untuk Pemegang Saham