Scroll untuk membaca artikel
Eko Faizin
Senin, 29 Maret 2021 | 14:46 WIB
Ilustrasi pengangguran. [pixabay/kalhh]

Angka kemiskinan, jelas Nenny, lebih jauh dapat dilihat dari indeks pembentuknya. Jika dilihat dari indeks kedalaman kemiskinan (p1) ternyata terjadi kenaikan cukup besar dari 0,64 (2019) menjadi 1,27 (2020).

"Peningkatan p1 mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin makin mejauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan antar penduduk miskin juga makin lebar," jelasnya.

Ditambahkannya, hal itu juga ditunjukkan oleh angka indeks keparahan kemiskinan (p2) yg naik dari 0,13 (2019) menjadi 0,45 (2020).

"Meskipun angka kemiskinan hanya mengalami peningkatan yg cukup kecil namun peningkatan ketimpangan didalamnya cukup besar. Artinya di tahun mendatang perlu upaya yg lebih serius dalam pengentasan kemiskinan di Kabupaten Siak," beber Nenny.

Menurut Nenny, bukan hanya bagaimana meningkatkan pendapatan penduduk miskin sehingga berada di atas garis kemiskinan.

"Namun juga bagaimana supaya kesenjangan di antara penduduk miskin tidak semakin melebar di antara mereka. Dengan demikian fokus perhatian pemerintah dalam mengatasi kemiskinan dapat lebih terkonsentrasi," kata Dia.

Disinggung soal lonjakan jumlah pengangguran dan kemiskinan di Siak, Nenny tak bisa menuding pandemi Covid-19 jadi penyebab dan pemicunya.

"Apakah Covid-19 mempengaruhi naiknya angka pengangguran ini, belum bisa dipastikan. Perlu data pendamping dan studi lebih lanjut,” sebutnya.

Kontributor : Alfat Handri

Load More