Scroll untuk membaca artikel
Eko Faizin
Minggu, 28 Maret 2021 | 11:05 WIB
Pengamat sejarah, Albohari saat berada di depan Tugu Nederlandsche Petroleum Pacific Maatschappij (NPPM) di Balai Pungut, Kabupaten Bengkalis. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

SuaraRiau.id - Desa Balai Pungut yang berada di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, memiliki sejarah panjang pada masa kejayaan kesultanan Siak.

Lokasi ini juga menjadi saksi bisu dimulainya aktivitas eksplorasi minyak bumi hingga kenangan kelam zaman penjajahan Jepang dahulu.

Kawasan ini berada cukup jauh dari pusat kota, Duri-Mandau, Bengkalis. Untuk sampai ke sana, diperlukan waktu sekitar 40 menit atau berkisar 35 kilometer dari Duri menuju Pekanbaru.

Di lokasi itu, terdapat tonggak sejarah yang masih berdiri kokoh. Itu merupakan bukti bahwa daerah itu sudah berdiri sejak lama dan dihuni masyarakat terdahulu.

Pengamat Sejarah, Albohari mengungkapkan bahwa di wilayah itu terdapat dua ikon yang menarik dan perlu dilestarikan, yaitu tugu Nederlandsche Petroleum Pacific Maatschappij (NPPM) dan kuburan dengan tulisan Kanji Jepang.

"Tugu NPPM ini untuk mengenang pendaratan pertama yang bersejarah karyawan minyak ke Duri. Pendaratan pertama yang legendaris ini, membuat kota Duri yang tidak dikenal, menjadi kota terkenal di peta nasional, bahkan peta Amerika," kata Albohari.

Menurutnya, orang Amerika semasa itu tidak tahu Riau, atau Pekanbaru, mereka hanya tahu Duri saja. Menurut catatan sejarah, Maskapai minyak NPPM ini melakukan pengeboran pertama di tahun 1935 di Blok Sebanga, yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Desa Bali Pungut, adalah sebuah Desa di waktu kerajaan Siak yang memegang peran penting. Disebut Balai Pungut, karena dikala itu, daerah ini adalah tempat dikumpulkannya/dipungut barang-barang hasil hutan seperti damar, rotan, gaharu, kayu, hewan liar, hasil sungai seperti ikan, dan lain-lain.

"Barang-barang yang dipungut disimpan di Balai sebuah Desa di Pinggiran Sungai Mandau, dari proses waktu Desa tersebut dinamakan Balai Pungut," katanya.

Barang-barang tersebut lalu dikirimkan ke kerajaan Siak, atau diperdagangkan ke daerah lain seperti Bengkalis, Pekanbaru, Tapung, Kampar, Minangkabau, dan daerah lain lewat Sungai Mandau yang cukup terkenal di kala itu.

Load More