- Sultan Syarif Kasim II menyerahkan takhta Kesultanan Siak beserta harta kekayaan dan wilayahnya kepada pemerintah Republik Indonesia.
- Sumbangan dana serta aset berharga dari sang sultan dialokasikan secara langsung untuk mendukung pembiayaan kemerdekaan negara.
- Atas pengabdian luar biasa tersebut, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Syarif Kasim II.
SuaraRiau.id - Sosok Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau Sultan Syarif Kasim II tak terlepas dari sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.
Penguasa ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura rela menanggalkan jubah kekuasaannya demi bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Budayawan Riau, Taufik Ikram Jamil menjelaskan, Sultan Siak tersebut bahkan menyumbangkan sebesar 13 juta Gulden Belanda, sebuah nominal fantastis yang kini ditaksir setara dengan Rp1 triliun lebih.
"Bahkan, sultan juga memberi uang pribadinya 13.000.000 Gulden Belanda. Suatu jumlah yang sangat besar," ujarnya, Senin (17/8/2026).
Taufik menuturkan Sultan Syarif Kasim II menjamin pendanaan Indonesia dengan menyerahkan mahkota-mahkota emas bertaburan intan berlian, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
Syarif Kasim II menyerahkan seluruh kedaulatan wilayahnya, ladang-ladang minyak kaya raya, hingga perhiasan mahkota emas bertabur intan berlian kepada pemerintah Indonesia yang baru berdiri.
Taufik mengungkapkan bahwa tindakan sang Sultan bukanlah keputusan impulsif, melainkan wujud kepatuhan pada amanah sang ayah.
Diceritakan Taufik, wasiat leluhur menegaskan bahwa jika tidak ada lagi keturunan langsung yang memerintah, seluruh harta dan benda kerajaan harus diserahkan kepada pemerintah yang sah.
Sultan memelopori pendirian sekolah bagi kaum pribumi serta menyokong beasiswa hingga 70 persen untuk para pelajar.
Sosoknya juga dikenal taat beragama dan berjiwa dermawan yang rutin bersedekah setiap hari Jumat.
"Dia banyak dikenang orang karena selama menjadi Sultan, selalu bersedekah tiap hari Jumat. Bahkan, dia memberikan beasiswa kepada pelajar sampai 70 persen. Jadi dari total biaya pelajar, 70 persennya dibantu Syarif Kasim II, tentunya sangat membantu," ucapnya.
Taufik mengisahkan pada bulan pertama kemerdekaan, Sultan bersama permaisuri meresmikan Tentara Rakyat Indonesia langsung di halaman Istana Siak untuk membakar semangat perlawanan rakyat.
Pengabdiannya diakui oleh Presiden Soekarno yang mengangkatnya sebagai penasihat negara sejak 1946 hingga 1950-an.
Menerima tawaran tersebut dengan lapang dada, sultan menetapkan satu syarat. Yakni bekerja tanpa menerima gaji sepeser pun dari negara.
Sultan Syarif Kasim II wafat di Rumbai, Pekanbaru pada 23 April 1968 di usia 74 tahun.