facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Polisi Bantah Tudingan Kriminalisasi Kasus Dosen Unri Anthony Hamzah

Eko Faizin Rabu, 12 Januari 2022 | 19:09 WIB

Polisi Bantah Tudingan Kriminalisasi Kasus Dosen Unri Anthony Hamzah
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto. [DEFRI CANDRA /RiauOnline]

Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto juga membantah tudingan lainnya bahwa perkara yang menjerat oknum dosen Unri tersebut.

SuaraRiau.id - Polda Riau dituding mengkriminalisasi tersangka perusakan disertai pengancaman dan pengusiran perumahan karyawan PT Langgam Harmoni, Anthony Hamzah.

Terkait hal tersebut Polda Riau tegas membantah tudingan kasus yang melibatkan oknum dosen Universitas Riau (Unri) yang dilontarkan Setara Institute tersebut.

Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto juga membantah tudingan lainnya bahwa perkara yang menjerat oknum dosen Unri tersebut terkait dengan sengketa lahan.

"Perlu saya tegaskan bahwa perkara yang disangkakan terhadap AH (Anthony Hamzah) adalah tentang tindak pidana perusakan disertai ancaman dan pengusiran yang terjadi di Perumahan Karyawan PT Langgam Harmoni, Desa Pangkalan Baru, Kecamatan Siak Hulu pada Kamis tanggal 15 November 2020 lalu. Jadi jelas bukan perkara sengketa lahan," ujar Sunarto dikutip dari Antara, Rabu (12/1/2022).

Menurutnya, perkara yang menjerat oknum dosen Pascasarjana Fakultas Pertanian itu adalah murni pidana perusakan, pengancaman, dan pemerasan.

Pasal yang diterapkan terhadap tersangka Anthony adalah 170 KUHP, 335 KUHP, dan 368 KUHP junto Pasal 55 dan atau 56 KUHP.

Dalam penanganan perkara tersebut, ia mengatakan penyidik telah menetapkan dua tersangka lainnya, Marvel dan Hendra Sakti.

Kedua tersangka yang berperan sebagai koordinator lapangan dan pengarah massa telah divonis bersalah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bangkinang. Marvel dihukum 1 tahun 8 bulan dan Hendra Sakti dihukum 2 tahun 2 bulan penjara.

Berdasarkan fakta persidangan, perwira menengah polisi tersebut mengatakan bahwa kejahatan itu bermuara pada Anthony Hamzah.

Dua terpidana sebelumnya menyatakan bahwa mantan ketua Koperasi Sawit Makmur periode 2016-2021 itu adalah otak aksi penyerangan yang melibatkan 300 preman untuk melakukan pengusiran dan pengancaman terhadap karyawan.

Komentar

Berita Terkait