Harapan Suku Sakai, Mati-matian Menjaga Sepetak Hutan Adat yang Tersisa

Masyarakat Sakai, awal 2021 kembali berusaha untuk mendapatkan pengakuan hutan adat, mereka menyampaikan hajat itu ke Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.

Eliza Gusmeri
Jum'at, 19 November 2021 | 15:37 WIB
Harapan Suku Sakai, Mati-matian Menjaga Sepetak Hutan Adat yang Tersisa
Bangunan pendopo yang merupakan tempat berkumpul dan bermusyawarah masyarakat adat Sakai terletak di kawasan hutan adat, Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis.[Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

"Kita adakan prosesi tepung tawar sebagai penyambutan, beliau jalan sambil meninjau hutan, mereka janji memperhatikan hutan dan masyarakat adat, mudah-mudahan ini kita jalin," tutur Nasir.

Kehadiran Bupati dan Dirut PT PHR diawali dari penyambutan dengan tarian porang suku sakai diiringi gendang odok oleh masyarakat Sakai yang terlihat kompak dan antusias menunggu kehadiran kedua tokoh ini.

Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi Tepuk Tepung Tawar dari Bathin 8 dan 5 yang dimulai dengan tokoh masyarakat Sakai M Yatim, lalu Kepala Suku Sakai 8 dan 5 Datuk Amat, Sesepuh dan Cendekiawan Suku Sakai (Bathin Togonong) Muhammad Agar Kalike, Kepala Suku Sakai Bathin Minas (Saibulan) Muhammad Bosu dan Kepala Suku Sakai Sobanga (Iyo Bangso) Muhammad Nasir.

Atas hal ini, Bupati Bengkalis Kasmarni merasa bangga dengan sambutan masyarakat melayu Sakai kepada Direktur PT. PHR dan rombongan di Bumi Melayu.

Baca Juga:Pasca Gigit Seorang Polisi, Hong Kong Mulai Kurangi Populasi Babi Hutan

“Kita tahu tradisi adat melayu tepuk tepung tawar ini merupakan ungkapan rasa gembira dan ucapan syukur serta do’a restu yang diberikan baik keselamatan, keberkahan, kedamaian serta kesuksesan dalam menjalankan aktifitas operasional serta produksinya, untuk terus bergerak maju, demi negara, bangsa, daerah dan masyarakat," kata Kasmarni, usai prosesi tepung tawar.

Menurutnya, ada dua nilai yang terdapat dalam tradisi tersebut yang diberikan kepada PT. PHR yakni "Tuah dan Amanah". Tuah dalam artian masyarakat melayu Sakai senantiasa berdo’a agar PT. PHR terus mendapatkan keberuntungan berdasarkan pertolongan Allah SWT.

Sedangkan amanah dalam artian masyarakat Sakai sangat meyakini bahwa keberadaan PT. PHR dalam pengelolaan blok rokan, merupakan aset berharga yang harus senantiasa dijaga serta dilindungi keberadaannya secara bersama-sama.

“Kita juga berharap, PT PHR dapat memberikan kontribusi kepada daerah ini, khususnya kepada masyarakat suku sakai. Baik itu melalui CSR, beasiswa pendidikan atau pekerjaan. mungkin tidak dapat memegang jabatan yang eksekutif, menjadi karyawan biasa pun jadilah, sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya,” harapnya.

Sementara itu, Dirut PT PHR Jaffe A Suardin mengaku terkesan atas sambut yang luar biasa dari masyarakat Suku Sakai. Dan berupaya akan memberikan perhatian kepada Suku Sakai dan masyarakat lainnya lewat program-program sosial di Pertamina.

Baca Juga:Indonesia Disebut Pemilik Lahan Mangrove Terbesar Dunia, Berapa Sih Luasnya?

“Kami juga mengajak masyarakat Suku Sakai untuk bersama berkolaborasi mendukung program yang akan kami laksanakan. Karena Alhamdulillah mulai dari hari Senin 9 Agustus 2021 kemarin, PT PHR sudah beroperasi di Bumi Melayu ini, Alhamdulillah kami mendapatkan dukungan dari Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat khusunya masyarakat Suku Sakai. Kami yakin dengan adanya dukungan ini kita akan menghasilkan sesuatu yang akan bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini