Rumah adat ini disebut lipat kajang karena mempunyai bentuk seperti perahu. Ujung atas bangunan melengkung ke atas yang disebut lipat kajang atau pohon jerambah. Lipat Kajang mempunyai makna kelok sungai tajam. Atap rumah ini curam, sehingga memudahkan air hujan jatuh ke tanah.
Biasanya rumah ini dihias dengan ornamen ukiran dengan motif tumbuhan, hewan dan bunga. Rumah ini mulai sulit ditemukan di permukiman penduduk.
Baca Juga:Kemunculan Asap Berbau Balerang Resahkan Warga Kawasan Danau Maninjau, Ini Penyebabnya
Rumah ini mempunyai ukuran lebih tinggi daripada atap limasnya, sekitar dua meter di atas permukaan tanah. Kerangka dari atap rumah ini terbuat dari bambo atau bubung yang mempunyai desain layaknya dibelah dua.
Karena bahan pondasi sebagian besar terbuat dari alam, rumah ini dinilai rumah ramah lingkungan. Bagian lantai dibuat dari papan dan atapnya terbuat dari daun nipah atau rumbia. Bentuk atapnya menyerupai pelana kuda.
![Rumah Belah Bubung. [Cerdika]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/10/13/11268-rumah-belah-bubung.jpg)
Rumah jenis ini kerap digunakan oleh sebagian besar masyarakat Riau untuk tempat tinggal. Bangunan yang memiliki panggung dengan menyerupai limas terpotong ini rata-rata memiliki tinggi sekitar 1,5 meter.
Rumah ini terdiri dari bagian teras, ruang depan, ruang tengah, ruang belakang, tempat tidur dan dapur. Jenis rumah ini banyak ditemukan di wilayah Riau.
Baca Juga:Tak Bisa ke Rumah Duka, UAS Kirim Doa untuk Mendiang Datuk Seri Al Azhar