Eko Faizin
Jum'at, 09 Oktober 2026 | 11:53 WIB
Kabut asap karhutla terlihat menyelimuti jalanan Kota Pekanbaru. [Ist]
Baca 10 detik
  • Kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Riau hingga kini terus menyelimuti sejumlah wilayah.
  • Dr dr Indra Yovi menyatakan paparan asap karhutla memicu peningkatan signifikan kasus ISPA serta bronkitis.
  • Pemerintah daerah didirikan untuk menyediakan pos oksigen, membagikan masker, serta memperpanjang PJJ.

SuaraRiau.id - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau hingga saat ini.

Tak hanya dunia pendidikan, asap karhutla juga akan menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya bagian pernapasan.

Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Riau, Dr dr Indra Yovi Sp.P (K) mengatakan, dampaknya akan semakin lebih terasa dan semakin berat beriring dengan semakin tingginya kosentrasi PM 2,5.

"Paparan asap yang terjadi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan mudahnya terjadi serangan atau eksaserbasi pada orang-orang yang menderita asma, bronkiektasis dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis)," jelasnya, Kamis (8/10/2026).

Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia dan orang yang telah memiliki penyakit paru dan saluran nafas seperti asma, TB, PPOK, kanker paru, sinusitis, rhinitis sangat berisiko terpapar asap.

"Pada orang-orang yang sedang ataupun pernah menderita TB maupun penyakit infeksi kronis lain juga akan mengakibatkan mudah terjadinya infeksi baru dan penurunan fungsi paru. Pasien asma dan PPOK juga bisa mengalami serangan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan gagal napas," terang Yovi.

Dia mengungkapkan peningkatan kasus ISPA dan bronkitis baik rawat jalan dan rawat inap meningkat signifikan pada bulan agustus dan september ini dibandingkan bulan Mei-Juni-Juli.

Yovi menuturkan, sebaiknya pemerintah daerah sudah mulai melakukan pemetaan untuk mempersiapkan rumah atau pos oksigen yang nantinya bisa diperuntukkan untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan oksigen.

"Termasuk juga selalu mengevaluasi PJJ (pembelajaran jarak jauh) bagi sekolah, dan jangan ragu memperpanjang PJJ seandainya kondisi udara masih pada level berbahaya untuk kesehatan," terangnya.

Yovi juga mendorong distribusi masker secara masif dan edukasi pentingnya pemakaian masker harus lebih ditingkatkan.

Pemerintah tidak boleh ragu membuat keputusan yang bijak terutama dalam melarang kegiatan outdoor pada kondisi seperti sekarang.

"Masker yang paling direkomendasikan yakni masker N95. Tetapi minimal pakai masker bedah biasa untuk kondisi sekarang sudah cukup, karena masker N95 kadang susah didapat dan harganya relatif mahal," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga merekomendasikan pemakaian air purifier di dalam ruangan, bila asap masuk ke dalam rumah bisa dibersihkan sehingga tidak terjadi indoor pollution.

Load More