- Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kualitas udara di Pekanbaru memburuk hingga mencapai kategori berbahaya pada Rabu, 7 Oktober 2026.
- Dinas Pendidikan Pekanbaru memperpanjang sistem pembelajaran jarak jauh bagi siswa PAUD hingga SMP sampai tanggal 10 Oktober 2026.
- Lebih dari 10.000 warga mengalami gangguan saluran pernapasan dan fasilitas kesehatan mencatat peningkatan kunjungan pasien akibat paparan asap.
SuaraRiau.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda menyebabkan kualitas udara hingga memicu gangguan kesehatan pada anak-anak di Pekanbaru.
Penurunan kondisi udara dampak karhutla juga mengganggu dunia pendidikan. Sekolah memperpanjang sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) guna mengurangi dampak buruk terhadap kelompok rentan.
Meskipun aktivitas sekolah telah dialihkan secara daring, paparan kabut asap tebal di ruang terbuka tetap memicu penurunan kondisi fisik warga, khususnya anak-anak.
Sejumlah orang tua di Pekanbaru melaporkan anak-anak mereka mulai mengalami gejala demam, batuk, dan gangguan pernapasan.
Salah seorang warga Pekanbaru, Rani mengeluhkan kondisi kesehatan anaknya yang terus menurun akibat tebalnya kabut asap dalam beberapa hari terakhir.
"Awalnya anak saya mengeluh gak enak badan, lalu muncul batuk-batuk, karena kabut asap semakin parah di Pekanbaru," katanya, Rabu (7/10/2026).
Keluhan serupa disampaikan oleh warga Pekanbaru lainnya, Elvi, yang harus merawat anaknya di rumah setelah mengalami gejala demam tinggi.
"Sudah 2 hari anak saya demam," ujar Elvi, Rabu (7/10/2026).
Terkait kondisi udara yang membahayakan kesehatan, Dinas Pendidikan Pekanbaru memberlakukan PJJ bagi siswa PAUD hingga SMP sejak Selasa (6/10/2026).
Kebijakan belajar dari rumah yang semula dijadwalkan hingga Rabu (7/10/2026) tersebut kini resmi diperpanjang sampai Sabtu (10/10/2026).
Langkah ini diambil setelah pemantauan parameter kualitas udara dari BMKG dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan menunjukkan kondisi sangat tidak sehat hingga menyentuh level berbahaya.
Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar menyampaikan, perpanjangan masa belajar dari rumah tersebut diputuskan berdasarkan hasil evaluasi tiga indikator pengukuran pencemaran udara.
Tingkat pencemaran di wilayah Kota Pekanbaru sempat memburuk tajam hingga masuk ke kategori berbahaya pada Rabu siang.
"Kondisi udara kita di Pekanbaru hari ini dalam kondisi sangat tidak sehat, dan ada tiga parameter, tiga-tiganya menunjukkan kondisi sangat tidak sehat. Dan tadi jam 13.00 WIB itu sampai ke posisi berbahaya," kata Markarius, Rabu (7/10/2026).
Pemkot Pekanbaru mencatat paparan kabut asap telah berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat setempat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Kabut Asap Tak Hanya Ganggu Belajar, Anak-anak di Pekanbaru Terserang Demam
-
Kabut Asap, 3 Pesawat Tujuan Bandara Pekanbaru Sempat Berputar-putar di Langit
-
Penderita ISPA di Kuansing Meningkat Drastis Imbas Pekatnya Kabut Asap Karhutla
-
Siswa dan Guru di Kampar Mulai Keluhkan Sesak Napas Akibat Kabut Asap
-
Kabut Asap, Sebagian Besar Kecamatan di Pelalawan Liburkan Sekolah