- Kabut asap pekat akibat karhutla di Riau mengganggu kesehatan warga dan guru SDN 028 Rimbo Panjang pada Rabu, 7 Oktober 2026.
- Empat guru di sekolah tersebut mengalami sesak napas dan harus menggunakan alat nebulizer akibat terpapar udara buruk.
- Pihak sekolah membatasi aktivitas luar ruangan serta mengizinkan siswa belajar di rumah karena belum ada instruksi resmi pembelajaran jarak jauh.
SuaraRiau.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Riau berdampak buruk bagi kesehatan warga, termasuk para guru di Kabupaten Kampar.
Di SD Negeri 028 Rimbo Panjang Kampar, para siswa dan guru tetap sekolah dengan penyesuaian berupa pembatasan aktivitas fisik di luar ruangan sehingga anak-anak lebih banyak di kelas.
Kepala SD Negeri 028 Rimbo Panjang, Nuraini, mengatakan pihaknya tidak bisa serta-merta meliburkan para siswa karena masih menunggu arahan resmi dari dinas terkait.
"Sampai saat ini belum ada intruksi dari atasan pelaksanaan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Kami tidak bisa buat kebijakan sendiri," katanya, Rabu (7/10/2026).
Nuraini mengungkapkan, tingkat kepekatan kabut asap di wilayahnya dalam dua hari terakhir ini sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan.
Dia menilai bahwa dengan kondisi udara yang semakin memburuk, sistem PJJ semestinya sudah mulai diberlakukan secepatnya demi mencegah anak-anak maupun tenaga pendidik terpapar langsung.
"Jangankan anak-anak, kita pun guru sudah terasa napas sesak, tenggorokan pedih, hidung tersumbat dan mata terasa kabur rasanya," terang Nuraini.
Dampak buruk dari paparan kabut asap pekat ini terbukti telah memunculkan berbagai keluhan fisik yang sangat mengganggu aktivitas di sekolah.
Nuraini menjelaskan, bukan hanya anak-anak, para guru mulai merasakan berbagai gejala seperti napas terasa sesak, tenggorokan pedih, hidung tersumbat, hingga pandangan mata yang mulai mengabur.
"Guru kita ada 4 orang yang kena asma. Jadi pulang sekolah pasang nebulizer di rumah," ucapnya.
Kondisi terparah bahkan dialami oleh empat orang guru di sekolah tersebut yang secara mendadak terserang penyakit asma akibat terus-menerus menghirup udara beracun.
Akibatnya, keempat tenaga pendidik tersebut terpaksa harus menggunakan alat bantu pernapasan berupa nebulizer setibanya di rumah setelah jam mengajar usai.
Merespons kekhawatiran yang kian meningkat, pihak sekolah pada akhirnya memberikan kebijakan yang fleksibel bagi orang tua murid yang enggan mengambil risiko.
Pihak sekolah mengizinkan siswa-siswi yang meminta izin untuk belajar dari rumah, sehingga mereka tidak memaksakan kehadiran murid di tengah ancaman kabut asap.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
Siswa dan Guru di Kampar Mulai Keluhkan Sesak Napas Akibat Kabut Asap
-
Kabut Asap, Sebagian Besar Kecamatan di Pelalawan Liburkan Sekolah
-
Kabut Asap Tebal Kepung Pekanbaru, Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat
-
Ayah Selebgram Pekanbaru Ditangkap Terkait Kasus Penipuan Proyek Batu Bara
-
Masih Bocah, Pelaku Begal Sadis Seret Warga Pekanbaru hingga 600 Meter Ditangkap