Eko Faizin
Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:43 WIB
Ilustrasi - Petugas BPBD berupaya memadamkan kebakaran lahan. [Antara/Untung Setiawan]
Baca 10 detik
  • Kabut asap pekat akibat karhutla di Riau mengganggu kesehatan warga dan guru SDN 028 Rimbo Panjang pada Rabu, 7 Oktober 2026.
  • Empat guru di sekolah tersebut mengalami sesak napas dan harus menggunakan alat nebulizer akibat terpapar udara buruk.
  • Pihak sekolah membatasi aktivitas luar ruangan serta mengizinkan siswa belajar di rumah karena belum ada instruksi resmi pembelajaran jarak jauh.

SuaraRiau.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Riau berdampak buruk bagi kesehatan warga, termasuk para guru di Kabupaten Kampar.

Di SD Negeri 028 Rimbo Panjang Kampar, para siswa dan guru tetap sekolah dengan penyesuaian berupa pembatasan aktivitas fisik di luar ruangan sehingga anak-anak lebih banyak di kelas.

Kepala SD Negeri 028 Rimbo Panjang, Nuraini, mengatakan pihaknya tidak bisa serta-merta meliburkan para siswa karena masih menunggu arahan resmi dari dinas terkait.

"Sampai saat ini belum ada intruksi dari atasan pelaksanaan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Kami tidak bisa buat kebijakan sendiri," katanya, Rabu (7/10/2026).

Nuraini mengungkapkan, tingkat kepekatan kabut asap di wilayahnya dalam dua hari terakhir ini sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan.

Dia menilai bahwa dengan kondisi udara yang semakin memburuk, sistem PJJ semestinya sudah mulai diberlakukan secepatnya demi mencegah anak-anak maupun tenaga pendidik terpapar langsung.

"Jangankan anak-anak, kita pun guru sudah terasa napas sesak, tenggorokan pedih, hidung tersumbat dan mata terasa kabur rasanya," terang Nuraini.

Dampak buruk dari paparan kabut asap pekat ini terbukti telah memunculkan berbagai keluhan fisik yang sangat mengganggu aktivitas di sekolah.

Nuraini menjelaskan, bukan hanya anak-anak, para guru mulai merasakan berbagai gejala seperti napas terasa sesak, tenggorokan pedih, hidung tersumbat, hingga pandangan mata yang mulai mengabur.

"Guru kita ada 4 orang yang kena asma. Jadi pulang sekolah pasang nebulizer di rumah," ucapnya.

Kondisi terparah bahkan dialami oleh empat orang guru di sekolah tersebut yang secara mendadak terserang penyakit asma akibat terus-menerus menghirup udara beracun.

Akibatnya, keempat tenaga pendidik tersebut terpaksa harus menggunakan alat bantu pernapasan berupa nebulizer setibanya di rumah setelah jam mengajar usai.

Merespons kekhawatiran yang kian meningkat, pihak sekolah pada akhirnya memberikan kebijakan yang fleksibel bagi orang tua murid yang enggan mengambil risiko.

Pihak sekolah mengizinkan siswa-siswi yang meminta izin untuk belajar dari rumah, sehingga mereka tidak memaksakan kehadiran murid di tengah ancaman kabut asap.

Load More