- Warga pengguna solar bernama Wimala Rahmi mengeluhkan kelangkaan bahan bakar di SPBU Kota Siak sejak Rabu, 30 September 2026.
- Pengemudi truk bernama Anton mengalami penurunan pendapatan harian akibat harus mengantre solar selama lebih dari dua jam setiap hari.
- Masyarakat yang terdampak kelangkaan bahan bakar tersebut mendesak pemerintah setempat segera memberikan solusi konkret untuk mengatasi masalah ini.
SuaraRiau.id - Masyarakat yang mobil menggunakan solar mengeluhkan semakin susahnya mendapatkan BBM jenis tersebut di wilayah Siak.
Wimala Rahmi (34), salah seorang pengendara mengaku butuh waktu dua hingga dua setengah jam untuk mendapatkan BBM jenis biosolar di SPBU Kota Siak, Siak.
Rahmi mengatakan mulai mengantre pukul 07.00 Wib kurang hingga pukul 09.00 WIB baru bisa mendapatkan giliran pengisian biosolar.
"Susah sekali mendapatkan BBM Biosolar beberapa bulan terakhir ini. Gak tau kenapa," kata Wimala Rahmi saat ditemui Suara.com, Rabu (30/9/2026).
Tak hanya itu, tambah Rahmi, ia pernah mengantre lebih dari sejam mendadak dapat pemberitahuan bahwa solar sudah habis.
"Kadang sudah mengantre hingga berjam jam tiba-tiba biosolarnya habis. Banyak sekali waktu terbuang gara-gara biosolar ini susah didapatkan," tambahnya.
Ia berharap, ada langkah konkret dari pemerintah atas situasi tersebut. Sebab, banyak hal yang tertunda hanya karena harus antre BBM.
"Kadang gara gara ngantri banyak hal kerjaan tertunda. Sementara, disituasi ekonomi seperti ini, kami hanya bisa beli biosolar. Saya berharap ada langkah konkrit dari pemerintah mengatasi situasi ini," sebutnya.
Hal serupa dikatakan Anton (47), salah seorang sopir mobil dumptruk di Siak. Dikatakannya, butuh waktu dua jam lebih untuk mengantri agar mendapatkan minyak solar.
"Sekarang kacau kali. Kadang cuma ngisi Rp200 ribu pun harus ngantre 2 jam lebih," kata Anton.
Disampaikan Anton, setiap hari ia harus bolak balek melangsir tanah timbun sehingga ia membutuhkan minyak mobilnya benar benar terisi penuh. Sebab hal itu sangat berpengaruh terhadap pengahasilannya perhari.
"Dulu sehari bisa dapat 7-8 trip. Sekarang paling 4 atau 5. Ya karena waktu habis untuk mengantri BBM," sebutnya.
Tambah Anton, di tengah situasi ekonomi yang tak menentu ini, ia tidak mungkin mengisi kendaraannya dengan BBM jenis Pertamina Dex ataupun Dexlite.
Sebab, sambungnya, harga minyak itu tidak sebanding dengan pendapatannya jika menggunakan mobil tersebut untuk mencari nafkah.
"Selain BBM Biosolar, gak mampu kita bang belinya. Gak masuk hitungannya. Bisa bisa duit habis untuk beli minyak bukan untuk ngasi makan keluarga," tambahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
Pilihan
-
Listyo Sigit Prabowo Segera Diganti, DPR Setujui Komjen Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
Terkini
-
Antrean Solar di Siak Mengular, Sopir: Butuh 2 Jam Lebih untuk Dapat Minyak
-
Puluhan Dokter Muda Resmi Ditempatkan di Pekanbaru dan Kuansing
-
Pelaku Ditangkap, Ini Kronologi Penusukan Viral di Warung Bakso Dumai
-
Gagal Kencan Gegara Wajah Tak Sesuai di MiChat, Pria Pekanbaru Jadi Korban Pemerasan
-
Qlola by BRI Dukung Perusahaan Kelola Payroll Lebih Efisien dan Akurat