Eko Faizin
Kamis, 01 Oktober 2026 | 10:29 WIB
Antrean panjang mobil pengguna solar di wilayah Siak, Rabu (30/9/2026). [Suara.com/Alfat Handri]
Baca 10 detik
  • Warga pengguna solar bernama Wimala Rahmi mengeluhkan kelangkaan bahan bakar di SPBU Kota Siak sejak Rabu, 30 September 2026.
  • Pengemudi truk bernama Anton mengalami penurunan pendapatan harian akibat harus mengantre solar selama lebih dari dua jam setiap hari.
  • Masyarakat yang terdampak kelangkaan bahan bakar tersebut mendesak pemerintah setempat segera memberikan solusi konkret untuk mengatasi masalah ini.

SuaraRiau.id - Masyarakat yang mobil menggunakan solar mengeluhkan semakin susahnya mendapatkan BBM jenis tersebut di wilayah Siak.

Wimala Rahmi (34), salah seorang pengendara mengaku butuh waktu dua hingga dua setengah jam untuk mendapatkan BBM jenis biosolar di SPBU Kota Siak, Siak.

Rahmi mengatakan mulai mengantre pukul 07.00 Wib kurang hingga pukul 09.00 WIB baru bisa mendapatkan giliran pengisian biosolar.

"Susah sekali mendapatkan BBM Biosolar beberapa bulan terakhir ini. Gak tau kenapa," kata Wimala Rahmi saat ditemui Suara.com, Rabu (30/9/2026).

Tak hanya itu, tambah Rahmi, ia pernah mengantre lebih dari sejam mendadak dapat pemberitahuan bahwa solar sudah habis.

"Kadang sudah mengantre hingga berjam jam tiba-tiba biosolarnya habis. Banyak sekali waktu terbuang gara-gara biosolar ini susah didapatkan," tambahnya.

Ia berharap, ada langkah konkret dari pemerintah atas situasi tersebut. Sebab, banyak hal yang tertunda hanya karena harus antre BBM.

"Kadang gara gara ngantri banyak hal kerjaan tertunda. Sementara, disituasi ekonomi seperti ini, kami hanya bisa beli biosolar. Saya berharap ada langkah konkrit dari pemerintah mengatasi situasi ini," sebutnya.

Hal serupa dikatakan Anton (47), salah seorang sopir mobil dumptruk di Siak. Dikatakannya, butuh waktu dua jam lebih untuk mengantri agar mendapatkan minyak solar.

"Sekarang kacau kali. Kadang cuma ngisi Rp200 ribu pun harus ngantre 2 jam lebih," kata Anton.

Disampaikan Anton, setiap hari ia harus bolak balek melangsir tanah timbun sehingga ia membutuhkan minyak mobilnya benar benar terisi penuh. Sebab hal itu sangat berpengaruh terhadap pengahasilannya perhari.

"Dulu sehari bisa dapat 7-8 trip. Sekarang paling 4 atau 5. Ya karena waktu habis untuk mengantri BBM," sebutnya.

Tambah Anton, di tengah situasi ekonomi yang tak menentu ini, ia tidak mungkin mengisi kendaraannya dengan BBM jenis Pertamina Dex ataupun Dexlite.

Sebab, sambungnya, harga minyak itu tidak sebanding dengan pendapatannya jika menggunakan mobil tersebut untuk mencari nafkah.

"Selain BBM Biosolar, gak mampu kita bang belinya. Gak masuk hitungannya. Bisa bisa duit habis untuk beli minyak bukan untuk ngasi makan keluarga," tambahnya.

Load More