- PNM menghadirkan pembiayaan bagi usaha ultra mikro melalui Mekaarpreneur.
- Program ini tidak hanya berbicara tentang pembiayaan, tetapi juga pendampingan.
- Ada juga proses belajar, penguatan mental usaha dan pengembangan produk.
SuaraRiau.id - Di tengah pembahasan mengenai akses pembiayaan bagi usaha ultra mikro, ada satu hal yang sering luput dari perhatian bahwa modal bukan satu-satunya kebutuhan untuk bertumbuh.
Banyak usaha dari rumah tangga sesungguhnya memiliki daya juang tinggi, produk yang potensial, bahkan pasar yang terbuka.
Namun tanpa akses pengetahuan, jejaring, kepercayaan diri dan pendampingan yang tepat, usaha mereka kerap jalan di tempat. Inilah yang membuat program Mekaarpreneur dari PNM menjadi relevan.
Program ini tidak hanya berbicara tentang pembiayaan, tetapi juga tentang bagaimana pengusaha ultra mikro didampingi untuk naik kelas melalui proses inkubasi bisnis yang lebih terarah.
Ada proses belajar, penguatan mental usaha, pengembangan produk, hingga cara melihat peluang pasar secara lebih luas.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Yuliana Dewi Putri adalah salah satu yang merasakan manfaatnya.
Produk herbal Drink Putri kini semakin mantap ia besarkan setelah mengikuti berbagai pelatihan dan inkubasi usaha dalam program Mekaarpreneur dan menjadi juara 1 di lingkup Bekasi – Jakarta.
"Saya mendapatkan ilmu banyak sekali, mendapatkan teman dan pengalaman luar biasa. saya diajarkan cara branding produk dan pemasaran digital. Produk saya juga bisa berkolaborasi dengan teman-teman yang lain. Ilmu yang saya dapat bisa saya share ke anggota kelompok," ungkapnya bangga.
Di berbagai wilayah para nasabah dengan perkembangan skill dan pengetahun yang progresif keluar menjadi juara Mekaarpreneur.
Pencapaian ini bukan sekadar kemenangan kompetisi, melainkan simbol perubahan cara pandang.
Mereka mendapatkan pengalaman yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayangkan seperti belajar mempresentasikan usaha, memahami strategi bisnis, membangun branding, hingga berinteraksi dalam ekosistem kewirausahaan yang lebih profesional.
Bagi banyak pengusaha ultra mikro, pengalaman seperti ini memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar penghargaan.
Pendampingan membuat mereka merasa usahanya layak diperjuangkan. Mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada ruang belajar, ada pihak yang percaya, dan ada kesempatan untuk berkembang.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan pengusaha ultra mikro tidak berhenti pada keterbatasan modal.
Banyak dari mereka menghadapi persoalan mendasar seperti kurangnya literasi bisnis, akses pasar yang terbatas, belum memahami pengelolaan keuangan, hingga minimnya keberanian untuk mengembangkan usaha.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
BRI Group Tegaskan Komitmen Transformasi dan Inklusi Lewat Enam Penghargaan
-
BRI Siap Perkuat Ekosistem Bank Emas Indonesia Bersama Pegadaian
-
Kelola Keuangan Bisnis dalam Satu Platform, BRI Perkenalkan Qlola New Skin
-
Pemotong Rumput asal Perawang Siak Bobol Sistem Keamanan NASA
-
Kabut Asap Karhutla: 376 Kasus ISPA di Pekanbaru Sejak Agustus 2026