Eko Faizin
Senin, 12 Januari 2026 | 15:59 WIB
Hampir dua tahun, tim peneliti laboratorium PHR berjibaku dengan ratusan sampel bahan kimia untuk menemukan formulasi yang benar-benar mampu bekerja optimal di karakter reservoir Lapangan Rokan. [Dok PHR]
Baca 10 detik
  • PT PHR semakin menggencarkan pengembangan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR).
  • Hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan tingkat produksi Lapangan Minas, Riau.
  • Inovasi telah dilakukan sejak masa operator sebelumnya melalui sejumlah uji coba lapangan.

Senada, Wakil Direktur Utama PTPertamina(Persero) Oki Muraza menilai keberhasilan CEOR, khususnya pada lapangan mature, membuktikan bahwa inovasi teknologi mampu memperpanjang umur lapangan, meningkatkan recovery factor, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

"Yang patut kita banggakan bersama, surfaktan sebagai komponen utama dalam teknologi CEOR ini merupakan hasil inovasi perwira Pertamina. Efektivitasnya telah melalui serangkaian pengujian baik di laboratorium maupun di lapangan, sehingga memastikan keandalan dan kesiapan teknologi ini untuk diterapkan secara komersial," ungkap Oki.

Surfaktan utama yang digunakan diformulasikan secara khusus agar dapat bekerja optimal di lapangan-lapangan Pertamina.

Proses pengembangannya melibatkan sinergi dengan sejumlah anak usaha, antara lain PT Pertamina Lubricants (PTPL) dan Elnusa Petrofin, mulai dari pengadaan bahan baku, proses blending, quality assurance/quality control (QA/QC), hingga distribusi ke lokasi proyek. Seluruh tahapan tersebut telah melalui serangkaian uji laboratorium dan uji lapangan.

"Berbagai upaya dilakukan selain riset internal, secara paralel, kita mendapatkan dukungan dari banyak pihak, termasuk pihak ketiga penyedia teknologi , akademisi, dan para expert baik dari dalam maupun luar negeri," ujar Manager EOR Petroleum Engineering PHR Regional 1 – Sumatra, Agus Masduki.

Ratusan Sampel, Ratusan Percobaan, dan Tekanan Waktu

Salah satu tantangan terbesar dalam perburuan surfaktan adalah menemukan kombinasi surfaktan yang memberikan hasil paling optimal dengan biaya yang terjangkau.

Produk jadi yang tersedia di pasar global hanya perlu dipastikan cocok dan optimal, sehingga diperlukan percobaan ratusan formula untuk memenuhi kriteria teknis secara spesifik.

"Yang paling berat justru menemukan bahan main surfaktannya-nya," ungkap Agus.

Proses pencarian tersebut berlangsung hampir dua tahun, melibatkan lebih dari 80 kali percobaan laboratorium. Dari puluhan formula yang diuji, hanya sebagian kecil yang menunjukkan performa mendekati kriteria teknis yang ditetapkan.

Senior Analyst Laboratory PHR, Ester Tio Minar E. Silalahi, menjadi salah satu sosok kunci dalam proses tersebut. Dengan pengalaman panjang di bidang formulasi surfaktan, Ester memimpin pengujian dan analisis laboratorium secara intensif. Dengan tim berjumlah 9 orang, mereka berjibaku mencari formula yang paling sesuai.

"Kami menerima ratusan sampel surfaktan, tantangan terbesarnya adalah menemukan kombinasi yang cocok dan optimal," ujar Ester.

Menurutnya, tidak semua surfaktan dapat bekerja stabil pada kondisi kimia dan karakter reservoir Rokan. Oleh karena itu, tim melakukan pendekatan ilmiah mendetail—mulai dari membaca literatur, diskusi rutin, hingga pengujian berulang dengan berbagai kombinasi bahan.

"Meeting bisa dilakukan hampir setiap hari. Ratusan tes dilakukan dan hasilnya kami tinjau terus-menerus. Kalau ada kendala, langsung kami diskusikan secara intens," tambahnya.

Di luar laboratorium, upaya pencarian juga dilakukan secara paralel. Selain mengembangkan formula secara internal yang melibatkan tim laboratorium, EOR, dan fungsi-fungsi sinergis di tingkat Pertamina (Persero), tim juga bergerilya mencari manufaktur bahan kimia, baik di dalam maupun luar negeri—termasuk produsen yang belum pernah memiliki riwayat kerja sama sebelumnya.

Load More