"Kami ingin menunjukkan bahwa konservasi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Dengan mengembangkan wisata berbasis alam, kami berharap bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan," tambah Vicky.
Motivasi awal keterlibatan mereka yang tergabung dalam KUB di Bandar Bakau Dumai tetap pada misi menjaga lingkungan, khususnya hutan mangrove ini. KUB ini dikelola sekitar 19 anak muda setempat.
Adapun jenis unit bisnisnya seperti dua kafe yakni, Titikreda dan Redam Piloe Resto yang menjual aneka cemilan dan hidangan utama, serta ada pula babershop., dan homestay tersebut. Rata-rata omzet dari semua unit bisnis yang dikelola KUB ini bervariasi.
"Secara finansial, alhamdulillah masih masuk. Konsep kita outdoor. Jadi kalau musim hujan omzetnya sekitar Rp8 juta. Kalau musim lagi bagus, bisa lebih dari Rp10 juta per bulannya (di luar penjualan bibit mangrove)," tuturnya, saat diwawancarai media beberapa waktu lalu.
Baca Juga: HUT ke-6, Pertamina Hulu Rokan Siap Sambut Tantangan Masa Depan
Kisah sukses anak-anak muda di Bandar Bakau ini memberikan banyak pelajaran berharga. Pertama, program TJSL PHR telah membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, masyarakat lokal mampu menciptakan perubahan yang signifikan.
Kedua, semangat kewirausahaan dan kreativitas anak muda merupakan aset yang sangat berharga bagi pembangunan daerah. Ketiga, konservasi lingkungan tidak hanya bermanfaat bagi alam, tetapi juga bisa memberikan dampak ekonomi yang positif..
Keberhasilan program TJSL PHR di Bandar Bakau Dumai menjadi inspirasi. Dengan pendekatan yang tepat, program-program serupa dapat dikembangkan untuk memberdayakan masyarakat dan melestarikan lingkungan.
Ke depan, diharapkan semakin banyak anak muda yang terinspirasi untuk mengikuti jejak anak-anak muda di Bandar Bakau dan berkontribusi dalam pembangunan yang berkelanjutan.
"Bandar Bakau Dumai ini merupakan salah satu program TJSL PHR pada pilar lingkungan. Kami optimis, kerja sama PHR dan RSF sebagai mitra pelaksana ini dapat membuatkan hasil yang maksimal, terutama untuk perkembangan Bandar Bakau sebagai pusat wisata dan edukasi mangrove di pesisir Riau," kata Manager CSR PHR, Pandjie Galih Anoraga.
Baca Juga: Kolaborasi Informasi Cuaca dengan BMKG, PHR Siap Produktif di Berbagai Kondisi
Selain menjadi magnet wisatawan edukasi, Bandar Bakau Dumai juga memantik wisatawan mancanegara dan ilmuwan luar negeri. Seperti Rusia, Montenegro, Jepang, dan Malaysia, untuk melihat dan mempelajari ekosistem mangrovenya.
Berita Terkait
-
Bukber Asyik di Samarinda & Balikpapan: Ini 5 Kafe serta Restoran Pilihan untuk Ramadan!
-
Yamaha Tanam Ratusan Ribu Mangrove di Bone
-
Menyoal Ruang Literasi di Bandung: Antara Kafe dan Perpustakaan
-
Hutan Mangrove Lestari, Ekonomi Masyarakat Adat Kaltim Kuat Berkat Beasiswa Kemitraan Baznas
-
Cari Tempat Nyaman untuk WFC? Ini Kafe di Medan yang Wajib Dikunjungi
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Tiket Bus Arus Balik di Terminal Pekanbaru Habis Terjual, Kebanyakan ke Jawa
-
Silaturahmi ke Rumah Syamsuar, Gubri Wahid: Saya Minta Tunjuk Ajar
-
5 Tahun Tak Bisa Pulang, Bu Atun Bersyukur Ada Program Mudik Gratis dari BUMN
-
Gubri Abdul Wahid Ungkap Rencana Hadapi 'Badai' Efisiensi Anggaran
-
Polda Riau Ungkap Penyebab Penikaman Polisi hingga Berujung Maut