SuaraRiau.id - Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini, kesediaan masyarakat untuk berkontribusi dalam upaya konservasi menjadi semakin penting. Namun, apa sebenarnya yang mendorong seseorang untuk bersedia membayar demi pelestarian alam?
Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, baik secara perorangan maupun diselenggarakan oleh instansi tertentu, sangat mempengaruhi perubahan iklim saat ini.
Berbagai upaya konservasi telah dilakukan untuk memperbaiki lingkungan dan memperlambat proses perubahan iklim yang terjadi.
Mahasiswa pascasarjana Ilmu Lingkungan dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) yaitu Melki, Mardiana, Denny, dan Arya melakukan kajian terkait hal itu.
Berdasarkan kajian literatur, menunjukkan bahwa ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi kesediaan untuk membayar (Willingness to Pay/WTP) dalam bidang konservasi lingkungan.
Melki menyatakan kondisi ekonomi rumah tangga memainkan peran besar. Rumah tangga dengan pendapatan yang lebih tinggi cenderung lebih mampu dan bersedia menyisihkan dana untuk tujuan konservasi.
"Stabilitas ekonomi memungkinkan mereka untuk berkontribusi lebih banyak, baik secara finansial maupun melalui partisipasi aktif," katanya.
Sementara Mardiana menyebut jika tingkat pendidikan juga sangat berpengaruh. Orang-orang berpendidikan yang lebih tinggi biasanya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
"Mereka lebih sadar akan manfaat jangka panjang dari konservasi, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk generasi mendatang," jelas Mardiana.
Baca Juga: Jadi Solusi Lingkungan, Menteri LHK Resmikan Ekoriparian UMRI dan Unilak yang Dibangun PHR
Faktor sosial dan budaya juga tidak kalah penting. Masyarakat yang hidup dalam komunitas yang menghargai keberlanjutan cenderung lebih aktif dalam mendukung upaya pelestarian.
Terpisah Denny menambahkan bahwa kesadaran kolektif ini sering kali mendorong individu untuk ikut serta dalam berbagai program konservasi.
"Namun, tidak hanya faktor ekonomi dan pendidikan yang berperan. Kondisi lingkungan tempat tinggal juga mempengaruhi WTP," ungkap dia.
Denny mencontohkan, rumah tangga yang tinggal dekat dengan aliran air yang tercemar atau mengalami kondisi lingkungan yang buruk cenderung memiliki WTP yang lebih tinggi. Mereka langsung merasakan manfaat dari perbaikan lingkungan, sehingga lebih terdorong untuk mendukung program konservasi.
Sedangkan Arya menambahkan jika wisatawan dan rumah tangga yang bergantung pada hutan juga menunjukkan kesediaan yang tinggi untuk mendukung konservasi.
Menurutnya, mereka menyadari bahwa pelestarian alam tidak hanya melindungi satwa liar tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui pariwisata dan pendidikan.
Tag
Berita Terkait
-
Mengapa Tekan Emisi Saja Tidak Akan Cukup Selesaikan Krisis Lingkungan? Studi Ungkap Caranya
-
MIND ID Percepat Pemulihan Ekosistem Lewat Reklamasi dan Rehabilitasi DAS Skala Besar
-
Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi
-
Lima Hari Baru Bersih, 55,7 Ton Sampah Diangkut dari Kali Gendong Muara Baru
-
Jasa Marga Tingkatkan Komitmen Pengelolaan Green Toll Road dan Transformasi Rest Area Berkelanjutan
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Melihat Lebih Dekat Teknologi Pembakaran Sampah Jadi Listrik di Tiongkok
-
Belajar Bisnis Media di Chongqing, Bantu Branding Daerah lewat Influencer
-
Membuka Jalan untuk Difabel, PNM Hadirkan Pelatihan Vokasi Menuju Kemandirian
-
Minyak Sawit dan Kopi Indonesia Jadi Komoditi Paling Diminati di Chongqing
-
Cerita Robot-robot Tahan Ledakan Bikinan Anak Muda dari Chongqing