Scroll untuk membaca artikel
Eko Faizin
Kamis, 19 Agustus 2021 | 18:56 WIB
Ilustrasi makan bersama bubur Asyura di Siak pada 2018 sebelum pandemi. [Suara.com/Alfat Handri]

"Tahun ini kita tak buat, karena wabah Covid-19 ini kan. Tapi dahulu setiap orang membuat bubur Asyura di rumah masing-masing dan disedekahkan ke rumah tetangganya," timpa Wan Said.

Untuk resep bubur Asyura, kata Wan Said, terdiri dari beras yang akan dijadikan bubur itu tidak banyak dicampur dengan sayur-sayuran.

Dan rasanya agak sedikit peda karena ditambah dengan merica.

"Bubur Asyura kita agak berbeda dengan bubur Lambo. Kalau bubur Lambo itu banyak memakai sayur-sayuran seperti pakis gitu kan tapi kalau bubur asyura kita tidak memakai banyak sayur-sayuran," ungkapnya.

"Bubur Asyura kita memakai udang kering, suiran ayam, memakai santan dan menggunakan sedikit merica agar terasa pedasnya," sambung Ketua LAM Siak itu.

Hakikatnya, jelas Wan Said, Peringatan Asyura itu merupakan pengingat 10 kejadian di zaman Rasulullah. Dan bubur Asyura itu sebenarnya sudah ada sejak zaman rasulullah.

"Disebabkan hal itu, karena Sultan Siak mendirikan adat bersendikan syara' makanya dilestarikan bubur Asyura itu," terang Wan Said.

Dalam kesempatan itu, Wan Said juga mengajak seluruh lapisan masyarakat di Siak dimomentum hari penuh makna ini mengajak agar bermohon kepada Tuhan agar segera menghilang wabah Covid-19 ini di negeri istana dan Indonesia secara umum.

"Di momen hari ini saya mengajak agar kita semua sama-sama berdoa dan memohon agar virus Corona enyah dari Siak secara dan Indonesia secara umumnya," ujar Wan Said.

Kontributor : Alfat Handri

Load More