Scroll untuk membaca artikel
Eko Faizin
Minggu, 28 Maret 2021 | 11:05 WIB
Pengamat sejarah, Albohari saat berada di depan Tugu Nederlandsche Petroleum Pacific Maatschappij (NPPM) di Balai Pungut, Kabupaten Bengkalis. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Dijelaskan Albohari, Sungai Mandau merupakan merupakan salah satu jalur perdagangan yang cukup sibuk di masa kerajaan Siak Sri Indrapura.

"Balai Pungut meredup ketika jalan darat dibuka oleh Caltex, dan kini dicoba dihidupkan lagi lewat turis kampung (saya), sambil menikmati panorama sungai Mandau yang bibir sungainya diturap, dibangun monumen, dan tugu NPPM yang ikonik," ungkapnya.

Menurut dia, Sungai Mandau di Desa Balai Pungut menyimpan catatan-catatan sejarah yang layak dipromosikan untuk pariwisata. Seperti tugu NPPM tadi.

Kemudian, di Desa Balai Pungut ada kuburan Jepang. Menurutnya ini perlu diteliti lebih lanjut, apakah benar kuburan Jepang, atau kuburan tidak dikenal.

"Kalau benar ini kuburan Jepang, ada dua kemungkinan menurut pendapat saya, pertama tentara Jepang yang tewas ketika menghadapi kelompok pemuda Sakai dibawah pimpinan si Kodai. Kemudian orang Jepang yang meninggal ketika bekerja di pengeboran minyak bumi," tuturnya.

Dari tulisan yang tertera di kuburan tertulis wafat 17-7 1943, sayangnya tulisan berikutnya yang mirip tulisan kanji Jepang sudah tidak terbaca lagi, karena digerus oleh waktu.

Saat itu, Jepang masuk ke wilayah Duri (masuk juga wilayah Minas, Pinggir, Mandau, Talang Muandau, Bathin Solapan, dan Dumai) tahun 1943-1944, dengan tujuan ambisius yakni mencari emas yang konon cerita terdapat di Kandis (ternyata tidak terbukti).

Dan memproduksi minyak bumi besar-besaran (rampasan dari perusahaan minyak Belanda dan Amerika) untuk keperluan mesin perangnya.

Dari bukti sejarah itu, Albohari berharap, sejarah yang begitu berharga bagi warga tempatan tersebut, sebaiknya dilestarikan dan diteliti lebih lanjut oleh ahli-ahli sejarah secara ilmiah.

Kontributor : Panji Ahmad Syuhada

Load More