SuaraRiau.id - Tren perawatan kulit menjadi hal yang sudah biasa saat ini. Namun, banyak orang kadang memilih jalan pintas untuk perawatan kulit.
Jalan pintas dengan hasil instan yang dipilih tersebut, lebih banyak tak mempertimbangkan risiko ke depan. Apalagi produk yang digunakan tidak berizin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan tidak berlabel halal.
Hal tersebut membuat kulit menjadi rusak.
"Krim abal-abal itu dalam asumsi saya mengandung logam berat, merkuri. Mudah-mudahan belum muncul efek serius. Jika kita tahu mengandung merkuri, harus segera dihentikan," ujar kata dr Fatimah Zahra, M.Biomed AAM dilansir dari Antara, Rabu (10/3/2021).
Kata Dokter Fatimah, semakin lama dipakai produk mengandung merkuri akan semakin menumpuk di jaringan kulit dan perlu waktu lama hingga tahunan untuk menghilangkannya.
Meski demikian, ada solusi yang diberikannya. Yang pertama adalah mengonsumsi antioksidan yang tinggi.
"Supaya logam berat tidak berefek lama karena mengendap di ginjal, juga harus disertai minum air putih yang banyak. Jangan lupa diet sehat, konsumsi makanan dengan banyak serat, dan menjalani gaya hidup yangs sehat," sebutnya.
Tak hanya itu, Dokter Fatimah juga menyarankan untuk memilih produk kecantikan yang sudah berizin BPOM, berlabel halal, dan konsultasi ke dokter kulit atau dokter kecantikan.
Fatimah menyarankan, dalam memilih kosmetik untuk mencari produk yang menyehatkan kulit, bukan sekadar menawarkan kulit putih dan bersinar.
"Kalau diartikan putih tetapi tidak sesuai dengan warna kulit di bagian tubuh lainnya kan jadi lucu. Wajah itu ada rona-ronanya, ada rumusnya seperti yang ada di Fitzpatrick. Nggak mungkin kan wajahnya putih mengilap sementara leher dan tangannya hitam, itu nggak bagus," terang dia.
Dari referensi yang pernah dibacanya, memang banyak perempuan Indonesia ingin memiliki kulit yang putih.
"Mereka sebenarnya korban iklan. Di Indonesia kulit putih digadang-gadang lebih cantik, padahal jelas kulit Indonesia, dan Asia Tenggara berbeda-beda. Ada suku tertentu yang berkulit putih, tapi tidak semua. Kita berkulit gradasi, putih sampai sawo matang." kata Fatimah.
Ia juga mengkritisi soal bombardir iklan yang mengeneralisir bahwa cantik itu jika kulitnya putih.
"Sebaiknya produsen kosmetik juga harus bijaksana. Jangan beriklan dan membentuk mindset bahwa kulit putih itu cantik, tetap lebih kepada kulit sehat." tuturnya. (Antara)
Berita Terkait
-
Estetika Modern Tak Lagi Sekadar Tampilan, Ketahanan Sel Kulit Jadi Prioritas
-
Kecantikan yang Mematikan: Ancaman Pemutih Kulit Mengandung Merkuri
-
5 Skincare Bioderma untuk Kulit Kering, Kualitas Premium Mulai Rp100 Ribuan
-
5 Rekomendasi Moisturizer Anti-Aging untuk Usia 30 Tahun ke Atas, Mulai Rp40 Ribuan
-
5 Alasan Mengapa Vitamin E adalah Teman Terbaik Kulit Anda
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Blue Bird yang Banyak Dilirik: Service Record Jelas, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- 5 Sepatu Jalan Kaki untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantalan Nyaman Bisa Cegah Nyeri Sendi
- 7 Sepatu Sandal Skechers Diskon hingga 50% di Sports Station, Empuk Banget!
- Sheila Marcia Akui Pakai Narkoba Karena Cinta, Nama Roger Danuarta Terseret
- Evaluasi Target Harga BUMI Usai Investor China Ramai Lego Saham Akhir 2025
Pilihan
-
4 HP Murah Layar AMOLED RAM 8 GB Terbaik, Visual Mewah Lancar Multitasking
-
7 HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025, Daily Driver Andalan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
Terkini
-
5 Mobil Bekas dengan Ground Clearance Tinggi: Aman Banjir, Bandel buat Touring
-
Arus Lalu Lintas Jalintim Inhil Kembali Normal Pasca Pipa Gas Meledak
-
Kronologi Pipa Gas Meledak di Indragiri Hilir Sebabkan 10 Warga Terluka
-
4 Mobil SUV Bekas 5 Seater, Futuristik dengan Fitur Modern dan Efisien
-
4 Motor Matic Stylish untuk Wanita, Fungsional dan Praktis Dipakai Harian