SuaraRiau.id - Air menjadi kebutuhan paling penting bagi manusia. Air digunakan manusia sehari-hari.
Bertumbuhnya kawasan permukiman, semakin bertambah pula penggunaan air di masyarakat.
Tak terkecuali di Dusun Glempang, Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.
Meskipun letaknya di lereng Selatan Gunung Slamet yang memiliki sumber air melimpah, namun warga setempat tidak bisa merasakannya.
Kontur yang lebih tinggi dibandingkan mata air menjadi penyebab utamanya.
Dahulu sebelum tahun 1999, warga harus menimba air dengan pikulan menuju sumber mata air terdekat yang jaraknya berada di bawah permukiman. Hal tersebut menjadi umum, karena kebanyakan sumur kering karena kemarau.
Kondisi ini berubah ketika Sudiyanto (54), warga RT 3 RW 5 desa setempat menemukan alat pompa bertenaga air yang diberi nama 'Hysu' atau kepanjangan Hydram Sudiyanto yang sudah terdaftar di Hak Kekayaan Intelektual sebagai perekayasa teknologi.
Ia harus memakan waktu selama 2 tahun dari 1997, sebelum akhirnya alat tersebut bisa difungsikan dengan sempurna.
Awal mula ia menemukan alat ciptaannya tersebut bisa dikatakan tidak disengaja. Latar belakang pendidikan yang hanya lulusan Madrasah Aliyah atau setara SMA tak membuatnya berkecil hati.
"Saya tidak ada latar belakang teknik, hanya lulusan MA saja, tapi karena saya seneng ngutak-utik jadi tidak bisa diam," kata Sudiyanto saat ditemui Suara.com, Kamis (10/9/2020).
Kegemarannya membaca jugalah yang mengantarkan ia membuat alat ini. Ia mengatakan tidak sengaja menemukan sebuah buku tentang Teknologi Tepat Guna berbahasa Belanda di perpustakaan desa.
Namun ia tidak bisa berbahasa Belanda, akhirnya Sudiyanto meminta bantuan seorang teman yang merupakan pemandu wisata di kawasan Baturraden.
"Waktu itu kebetulan ada petemuan karang taruna di desa, nah kita baca-baca buku ini di perpusdes. Kita menemukan beberapa teknologi tepat guna salah satunya pompa air tenaga air atau Hydrolik Ram Pam. Bahasany Belanda," jelasnya.
Setelah membaca buku tersebut, ia mempraktrikkannya sendiri karena tidak mendapat dukungan dari warga sekitar. Faktor kebutuhan akan air yang mendorongnya berkeinginan untuk membuat alat tersebut.
Bahkan tak sedikit yang mencibirnya, sampai dikatakan gila karena berusaha menyalurkan air ke tempat yang lebih tinggi. Walaupun kesulitan modal, ia akhirnya bisa mengumpulkan uang untuk membeli peralatan sampai Rp 7,5 juta pada waktu itu.
"Kita mencoba dan mencoba, satu bulan belum selesai bahkan ada yang mengatakan kami tidak waras. Karena orang mengambil air kan biasanya dari atas ke bawah, kalau saya dari bawah ke atas. Ada yang sampai mengatakan berani minum air kencing sendiri bila sampai ke sini airnya. Tapi itu malah sebagai penyemangat," ujarnya.
Alat tersebut, kini pun di komersialkan dengan harga yang cukup miring jika dibandingkan dengan keawetan alat dengan minimalnya perawatan.
Bermodalkan besi bekas serta ban mobil bekas yang hanya seharga Rp 300 ribu, bisa dijual seharga Rp 1,75 juta. Terlebih alat ini tidak membutuhkan sumber daya listrik.
"Saya itu jual teknologi nya juga mas, jadi bukan sekedar alat. Jika dibandingkan dengan keawetannya ya sangat sebanding. Karena ini minim perawatan. Bayangkan saja, ini bisa menyalurkan sampai jarak 600 meter dengan ketinggian elevasi 86 meter. Istilahnya saya menciptakan tsunami dalam tabung untuk mengoperasikan alat ini," ujarnya.
Pompa air HySu ini berbeda dengan pompa air hydram pada umumnya, karena pompa air karya Sudiyanto memiliki aliran air yang lebih konstan. Karena diukur dengan kemiringan yang harus sesuai standar.
"Ini saya dengan berjalannya, waktu akhirnya membuat 7 pipa untuk meluncurkan air dengan berbagai ukuran dari 3 inci, 2 inci, satu setengah dan satu inci. Kemiringannya maksimal 35 derajat, kalau minimal 5 derajat sudah bisa membuat alat ini. Tidak boleh lebih dari 35 derajat, kalau lebih dari itu malah pompa ini tidak berfungsi," lanjutnya.
Dengan ditemukannya alat tersebut, kini 7 RT di RW 5 pun tidak pernah mengalami kekeringan. Ada 280 kepala keluarga yang menghuni.
a bahkan meraih berbagai penghargaan baik itu tingkat Kabupaten, Provinsi sampai Nasional termasuk meraih penghargaan Desa Mandiri Energi tahun 2019 dari Kemristek. Ada satu medali emas yang diraihnya pada tahun 2008 terpaksa dijual untuk membeli lahan milik warga yang digunakan sebagai sumber mata air.
"Saya waktu itu sempat jual medali emas. Kalau tidak salah dapat uang Rp 300 juta untuk pembebasan lahan warga yang digunakan meletakkan alat di dekat sumber mata air," katanya.
Berkat temuannya ini, berbagai wilayah dari Sumatera, ujung pulau jawa bagian timur, serta daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) turut merasakan pompa air hasil karyanya.
Tak cukup sampai disitu, di daerahnya sendiri ia mendirikan Paguyuban Masyarakat Pendamba Air Bersih (PMPAB).
Ia tak menarik mahal hasil temuannya ini, jika dibandingkan dengan harus memasang PDAM, ia hanya menarik iuran Rp 300 perkubik.
"Paling jika dirata-rata hanya Rp 15 ribu perbulan. Itu juga uangnya masuk ke paguyuban untuk operasional. Tidak mengambil untung," katanya.
Sementara itu, Warno (66) warga setempat yang menikmati jasa Sudiyanto mengaku sangat terbantu dengan adanya temuan alat HySu ini. Ia mengisahkan sulitnya mengalirkan sumber air yang berada di bawah permukiman warga.
"Dahulu itu saya harus ngangsu (nimba air) dengan menanjak sejauh 300 meter. Susah banget. Tapi ya alhamdulillah sekarang air saya sudah lancar tidak pernah kekeringan lagi walau musim kemarau," jelasnya.
Ia merasa kasihan jika mengingat jaman dahulu banyak warga yang memandang sebelah mata perjuangan Sudiyanto. Namun saat ini nyatanya banyak yang menikmati jasa penggunaan air dengan biaya rendah.
"Saya kasihan kalau ingat dahulu, dia (Sudiyanto) padahal tulus ikhlas untuk memperjuangkan air warga yang sebelumnya sangat susah," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Baju Terkena Genangan Air Hujan di Jalan Apakah Najis? Ini Penjelasan Fiqihnya
-
Beda Viva Air Mawar Vs Viva Queen Rose Face Mist, Cek Kandungan dan Fungsinya
-
5 Sepatu Jalan Anti Air untuk Outdoor, Nyaman Dipakai saat Musim Hujan
-
3 HP Murah Tahan Banting dan Air untuk Aktivitas Outdoor, Harga Rp2,5 Juta ke Bawah
-
Tawuran Maut di Kebon Jeruk: 19 Orang Ditangkap, Pelaku Siram Air Keras Diburu
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ketua PP Siak Terlibat Kecelakaan: Renggut Nyawa Pelajar, Belum Ditetapkan Tersangka
-
Diduga Main HP saat Nyetir, Ketua PP Siak Diperiksa usai Kecelakaan Maut di Perawang
-
Kronologi Kecelakaan Land Cruiser Ketua PP Siak, Tewaskan Pemotor Remaja
-
Land Cruiser Ketua Ormas di Siak Tabrak Motor, Satu Pelajar Tewas, 2 Luka Berat
-
65 Orang Jadi Tersangka Karhutla Riau, Lahan Terbakar Capai 3.394 Hektare