Hal yang sama juga dilakukan sejumlah negara. Misalnya, China yang mengecat pesawat kepresidenan dengan warna putih-biru meski punya bendera berwarna merah.
"Pilihan biru-putih yang digunakan ya warna yang direkomendasikan sebagai kamuflase atau penyamaran di udara," kata Fahmi pada Rabu (4/8/2021).
"Kendaraan pengangkut kepala negara yang juga simbol negara jadi tentu saja aspek keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi hal yang sangat penting," sambungnya.
Fahmi menyebut bahwa pemilihan warna merah untuk pesawat kepresidenan kurang tepat. Terlebih lagi jika mengingat alasan Istana memilih warna merah putih, yakni sesuai warna bendera.
Menurutnya, simbol warna bendera cukup diwakili gambar bendera Merah Putih di ekor pesawat.
Tak hanya itu, ia menegaskan hal paling utama dalam pewarnaan pesawat kepresidenan adalah keselamatan.
"Kalau saya bilang ini cenderung mengabaikan aspek keamanan ketika ada pergantian warna menjadi warna yang mencolok merah putih ini," katanya.
Sementara itu sebelumnya, pengecatan ulang pesawat kepresidenan mendapat sorotan dari pengamat penerbangan Alvin Lie. Ia mempertanyakan urgensi pengecatan ulang pesawat presiden.
Menurut Alvin Lie, cat ulang pesawat ini ditaksir bisa menelan biaya hingga Rp 2 miliar. Padahal, masyarakat sedang kesulitan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19.
Di lain pihak, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan bahwa rencana pengecatan pesawat tersebut telah dicanangkan sejak 2019.