Eko Faizin
Jum'at, 04 April 2025 | 17:01 WIB
Gubernur Riau Abdul Wahid dan Wakil Gubernur Riau SF Hariyanto. [Dok Mediacenter Riau]

SuaraRiau.id - Gubernur Riau (Gubri) Abdul Wahid bersilaturahmi ke kediaman mantan Gubernur sebelumnya, Syamsuar pada Rabu (2/4/2025).

Dalam momen tersebut, Syamsuar memberikan pesan agar jangan ada 'dua matahari' dalam kepemimpinan Abdul Wahid-SF Hariyanto.

Pernyataan Syamsuar pun menu perbincangan, mengingat duet Abdul Wahid-SF Hariyanto baru beberapa waktu memimpin Riau.

Mantan Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar. [Dok Mediacenter Riau]

Lantas apa makna dua matahari dalam kepemimpinan?

Istilah dua matahari atau matahari kembar kerap disebutkan dalam sebuah kepemimpinan organisasi tak terkecuali di lingkup politik.

Mengutip beberapa sumber, sebutan ini sering disampaikan untuk menggambarkan situasi ada dua orang atau lebih di dalam suatu organisasi yang memiliki pengaruh kuat dan bersaing satu sama lain. 

Hal ini terjadi lantaran kedua orang tersebut mempunyai otoritas yang mirip atau posisi strategis yang membuat mereka sama-sama penting. 

Perbedaan pandangan, gaya kerja di antara mereka sering kali menyebabkan konflik dan ketidakselarasan sehingga memunculkan kepemimpinan dua matahari.

Kepemimpinan dua matahari memicu konflik dan perselisihan sehingga membuat bawahan hingga masyarakat bingung terhadap siapa sosok yang harus diikutinya.

Baca Juga: Rumah Didatangi Gubri Wahid, Syamsuar Ngomongin 'Dua Matahari'

Selain itu, hal ini tak membuat efisiensi karena keputusan yang saling bertentangan atau instruksi yang tidak konsisten dapat memperlambat kinerja tim. 

Staf atau anak buah dibuat bingung atau terjebak dalam konflik kepentingan.

Fenomena ini juga memunculkan budaya kerja tidak sehat sehingga dapat menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan. Kejadian ini memungkinan anak buah merasa terjebak di tengah-tengah persaingan antara dua pemimpin.

Dengan adanya dua pemimpin akan kesulitan dalam pengambilan keputusan. Bisa saja keputusan penting tertunda karena masing-masing pihak bersikeras mempertahankan pandangannya. 

Akibatnya, pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat akan menjadi lebih lambat.

Diketahui, Gubernur Riau periode 2019-2024, Syamsuar menyinggung soal dua matahari saat Gubernur Abdul Wahid bersilaturahmi.

Di hadapan Wahid, Syamsuar berpesan jika terjadi dua matahari maka bawahan alias staf akan bingung.

"Yang paling penting jangan ada 'dua matahari', karena nanti bingung staf ini. Yang ini perintahnya ini, yang itu macam itu, kan bingung, mana mau dituruti, tak bisa," ujar Syamsuar.

Perkataan Syamsuar tersebut lantas dibalas anggukan dan senyuman Abdul Wahid. 

Gubri Abdul Wahid berharap bisa banyak belajar dari pengalaman Syamsuar karena hingga lima tahun ke depan harus memimpin Provinsi Riau menuju kemajuan dan kesejahteraan.

"Saya sangat menghargai pengalaman Pak Syamsuar. Beliau adalah sosok yang sangat berpengalaman dalam pemerintahan," ungkap Wahid.

Pada momen tersebut, Wahid terlihat mengenakan pakaian Melayu berwarna hijau tua, sementara Syamsuar mengenakan berkemeja merah muda dan celana hitam. 

Perbincangan keduanya juga berlangsung mengenai masa-masa pemerintahan dan pengalaman Syamsuar selama menjadi Gubernur Provinsi Riau di tahun 2019 hingga 2024.

Gubri Wahid silaturahmi ke para mantan gubernur

Diketahui, Gubernur Abdul Wahid bersilaturahmi ke mantan gubernur terdahulu pada momen Hari Raya Idul Fitri 1446 H, pada Rabu (2/4/2025).

Kunjungan tersebut diawali ke kediaman Syamsuar. Wahid dan rombongan disambut hangat oleh tuan rumah disambut hangat setiba di rumah gubernur periode 2019-2024 ini.

Menurutnya kunjungan ini merupakan bagian dari tradisi silaturahmi untuk mempererat tali persaudaraan dengan para tokoh Riau.

Abdul Wahid menyampaikan keinginannya untuk terus belajar dari pengalaman Syamsuar.

"Saya mohon tunjuk ajar dari Pak Syamsuar, karena beliau telah berpengalaman dalam roda pemerintahan," ucapnya.

Wahid dan Syamsuar pun mengenang masa-masa pemerintahan sebelumnya dan berbagi pengalaman dalam menjalankan roda pemerintahan.

Selain Wahid dan Syamsuar, Henny Sasmita dan Misnarni, istri Syamsuar, juga terlibat dalam perbincangan santai.

Salah satu topik yang mereka bahas adalah mengenai Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Riau.

"Kami bertukar pikiran mengenai program-program PKK yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Henny Sasmita.

Kunjungan Lebaran ini menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi antara Abdul Wahid dan Syamsuar.

Meskipun sebelumnya mereka merupakan rival dalam pemilihan Gubernur Riau, namun semangat persaudaraan dan kebersamaan tetap dijunjung tinggi.

Syamsuar pun menyambut baik keinginan Abdul Wahid dan menyatakan kesiapannya untuk berbagi pengalaman.

"Silaturahmi ini sangat penting untuk membangun Riau yang lebih baik," kata Syamsuar.

Selain mengunjung Syamsuar, Wahid juga menyambangi sejumlah mantan gubernur terdahulu yakni Wan Thamrin Hasyim, Saleh Djasit, Annas Maamun, Arsyadjuliandi Rachman dan Wan Abu Bakar.

Wahid didampingi sang istri Henny Sasmita dan para pejabat lingkungan Pemprov Riau. Silaturahmi ini terbagi dua sesi, pagi dan siang.

Pagi hari, mereka di kediaman Syamsuar, sang penguasa Riau periode 2019-2023. Setelah itu melanjutkan ke rumah Gubernur Riau di antaranya Wan Thamrin Hasyim, Saleh Djasit, dan Annas Maamun.

Siang harinya, mereka menambatkan hati di kediaman Arsyadjuliandi Rachman dan Wan Abu Bakar.

Di kediaman Wan Thamrin, Abdul Wahid menimba ilmu tentang Embarkasi Haji Pekanbaru, mimpi yang lama tertunda.

"Kami berdiskusi tentang impian masyarakat Riau, embarkasi haji yang memudahkan perjalanan suci," ungkap Wan Thamrin.

Load More