Scroll untuk membaca artikel
Eko Faizin
Selasa, 19 April 2022 | 12:28 WIB
Tangkapan layar Zan Christ. [Youtube The Women's Mosque of America]

Zan Christ penasaran mengapa teman-teman muslimnya senantiasa mempunyai kedamaian dan kebahagiaan batin dalam dirinya. Tak hanya itu, mereka sangat ramah dan murah hati padanya.

Sudah sejak lama Zan Christ juga mendambakan kedamaian dan kebahagiaan batin yang serupa. Ia pun lebih mendalami Islam bukan sebagai pendekatan kuliah lagi, melainkan sebagai keyakinan. Akhirnya, ia merasa Islam adalah agama yang benar baginya.

Di saat yang bersamaan, ia juga mendapatkan banyak kesulitan di perkuliahannya. Pada suatu malam, ia mencoba berbicara pada Allah SWT dan ia merasakan perasaan yang luar biasa.

Itu adalah momen paling bahagia dalam hidupnya. Akhirnya di tahun kedua kuliah S-2, Zan Christ memilih untuk menjadi mualaf.

Kini, ia senantiasa meluangkan waktunya untuk menyebarkan Islam dengan menjadi daiyah dan memberi pidato tentang Islam dan budaya muslim.

Dalam pidatonya, Zan Christ selalu menebarkan bahwa Islam adalah agama positif yang mana di Amerika sering ditemukan sentiment negatif terkait Islam.

Load More