Scroll untuk membaca artikel
Eko Faizin
Jum'at, 24 Desember 2021 | 17:36 WIB
Teknologi tepat guna buatan profesor ITB yang digunakan untuk mengecek kadar air di Kampung Patin Riau. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Ia menyebut, warga di Kampung Patin tidak hanya menjual produk UMKM. Juga menjual pelet, benih, dan ikan segar.

Selain itu juga, pihaknya memfasilitasi kegiatan pelatihan pembenihan ikan, cara pembuatan pakan ikan, dan pengolahan ikan.

Di samping itu, nilai tambah dari kampung patin ini adalah wisata alam dan wisata edukasi. Putaran uang di desa ini dari hasil panen ikan bisa mencapai ratusan juta per hari.

Karena ada bonus destinasi wisata, sejumlah pelajar, mahasiswa, akademisi, kelompok tani, dan aparatur pemerintah, datang melihat inovasi perikanan sembari berwisata. Desa ini juga banyak menyerap tenaga kerja, ada 32 usaha pakan ikan dan 60 kepala keluarga yang bekerja.

Didukung teknologi
Dalam proses pembibitan di kolam, Suhaimi juga sudah menggunakan teknologi tepat dan ramah lingkungan. Alat yang diletakan di atas air tersebut berfungsi untuk mengecek kadar air dan pH.

Alat tersebut menggunakan daya berupa solar panel. Trobosan ini dikembangkan oleh Profesor dari Institute Teknologi Bandung (ITB) yang turun langsung ke kampung patin di Kampar.

"Gunanya, kita cukup ngecek pakai aplikasi, ada 8 parameter. Ini kerjasama ITB, kebetulan adiknya ibu Eni (Direktur STP Riau) itu profesor. Teknologi ini baru jalan 3 bulan," ungkapnya.

Menurut Suhaimi, teknologi yang dikembangkan itu sangat membantu sekali, apalagi dalam hal pembenihan ikan patin.

"Jadi kita bisa cek kualitas air, pH nya itu mesti sesuai, 7 sampai 8 lah, dan mesti banyak planton agar patin sehat," katanya.

Kampung Patin binaan PHR
Usaha yang digeluti Suhaimi dan para warga lain juga merupakan salah satu program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan.

Load More